Selasa, 31 Mei 2016

PROPOSAL MINI PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT PADA MODEL GUIDED DISCOVERY LEARNING



PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER PADA MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY SEHINGGA SISWA MAMPU BERPIKIR SECARA KRITIS

Proposal

Diajukan kepada dosen mata kuliah Metodologi Penelitian sebagai tugas kuliah





Oleh

Rahman Al Hakim
1314080216


Dosen Pembimbing

Milya Sari, S.Pd, M.Si


JURUSAN TADRIS IPA FISIKA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) IMAM BONJOL
PADANG
1437 H / 2016 H

BAB I

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan suatu proses yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa, serta meningkatkan kemampuan mengkontruksi pengetahuan baru sebagai upaya untuk menguasai konsep materi pelajaran (Sagala dalam Widura, dkk, 2015). Sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No.23 tahun 2006, kemampuan berpikir yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis (Depdiknas dalam Widura, dkk, 2015). Berpikir kritis merupakan salah satu bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi yang sangat esensial bagi kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan (Oka dalam Widura, dkk, 2015). Oleh sebab itu, berpikir kritis penting untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran sebagai bekal untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat (Amri dan Ahmadi dalam Widura, dkk, 2015).
Keberhasilan proses pembelajaran diukur berdasarkan ketercapaian kompetensi yang ditetapkan sejak awal kegiatan pembelajaran. Semua pihak yang berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran yaitu siswa dan guru telah mengetahui arah pembelajaran. Kedua belah pihak perlu bekerja sama sedemikian rupa sehingga dapat tercapai kompetensi yang ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperlukan langkah-langkah agar tujuan yang ditetapkan dapat dicapai. Hal yang harus dilakukan adalah menggunakan strategi belajar mengajar yang cocok dan sesuai dengan pokokmateri yang disampaikan. Selain itu guru harus disiapkan supaya memiliki kemampuan dan kreatifitas untuk mengembangkan konten media presentasi dan pembelajaran yang menarik, interaktif,dan berdasarkan kurikulum yang benar (Dharmawati, dkk, 2013).
Perubahan kurikulum 1994 ke Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) antara lain bertujuan untuk mengubah pola pendidikan dari orientasi terhadap hasil dan materi menuju pendidikan sebagai proses. Pembelajaran dilakukan dengan melibatkan semua peserta didik supaya mereka mampu bereksplorasi membentuk kompetensi dengan menggali berbagai potensi dan kebenaran secara ilmiah. Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dapat dikatakan siswa sudah mengalami pendidikan sebagai suatu proses. Walaupun demikian, proses pembelajaran dalam paradigma lama masih melekat padaproses pembelajaran saat ini. Kegiatan belajar mengajar masih menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran yang pasif. Padahal pembelajaran fisika bukan hanya menyampaikan konsep, fakta maupun prinsip dengan hanya sekedar memberi materi dengan ceramah pembelajaran fisika akan lebih berkesan dan terasa nyata jika siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran misalnya dalam kegiatan eksperimen (Rahmawati,dkk, 2014).
Hasil survei dilapangan yang dilakukan Padilla dalam Rahmawati, dkk (2014) menunjukkan bahwa kurangnya pelatihan keterampilan proses sains khusus disekolah menyebabkan siswa kelas 9 hanya 10 % yang dapat menjawab dengan benar dari 700 sekolah yang ada. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kartikasari dalam Rahmawati, dkk (2014) mengenai kurangnya pelatihan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan proses sains yang dimiliki oleh siswa. Hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 14 Surakarta menunjukkan keterampilan proses sains yang dicapai siswa tingkat penguasaan aspek keterampilan proses sains sebesar 60, 75 % dan tingkat penguasaan indikator keterampilan proses sains siswa sebesar 60, 97%.
Data yang diperoleh dari penelitian Padilla (1985) dan Kartikasari (2011), menunjukkan bahwa keterampilan proses sains siswa masih rendah dan kurang dikembangkan oleh guru. Penyebab rendahnya kterampilan proses sains yang dimiliki siswa salah satunya adalah guru kurang memberikan kesempatan pada seluruh siswa untuk ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Guru masih mengandalkan metode ceramah tanpa melaksanakan pembelajaran yang berkaitan dengan proses dan juga produk pembelajaran.keterampilan proses sains yang masih rendah mengakibatkan siswa cenderung diam dalam kegiatan pembelajaran dan hanya menerima informasi dari guru saja, belum ada usaha untuk mencari informasi yang relevan dengan materi yang diajarkan guru ( Rahmawati, dkk , 2014 ).
Widura, dkk (2015), menyatakan bahwa fakta dilapangan menunjukkan kondisi dimana proses pembelajaran ,yang terjadi dikelas pada umumnya masih bersifat monoton dan kurang menarik. Pembelajaran di dalam kelas cenderung hanya berlangsung searah (teacher centered) dengan metode ceramah bervariasi. Meskipun guru telah mencoba mengaktikan siswa dengan melakukan tanya jawab dan pemberian tugas, tampaknya hal tersebut belum mampu memotivasi siswa untuk berperan akti dalam pembelajaran, serta belum mampu melatih proses berpikir kritis. akibatnya kemampuan berpikir kritis siswa cenderung rendah. Selain berakibat pada rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa , proses pembelajaran yang monoton juga dapat menyebabkan siswa merasa bosan, mengantuk, mengobrol dengan temannya dan sibuk mengerjakan PR atau tugas mata pelajaran lain. Sehingga siswa menjadi pasif dan kurang kritis terhadap materi pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, untuk mencari solusi dari masalah tersebut penulis bermaksud untuk melakukan penelitian eksperimen dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together pada Model Pembelajaran Guided Discovery Sehingga Siswa Mampu Berpikir Secara Kritis”.
B.     Identifikasi Masalah
Masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1.      Kegiatan pembelajaran fisika masih menjadikan siswa sebagai objek yang pasif.
2.      Keterampilan sains yang dimiliki siswa pada banyak sekolah masih sangat rendah dan kurang dikembangkan oleh guru sehingga siswa cederung diam dalam kegiatan pembelajaran.
3.      Siswa hanya menerima informasi dari guru saja, belum ada usaha untuk mencari informasi yang relevan dengan materi yang diajarkan guru.
4.      Pembelajaran di dalam kelas cenderung hanya berlangsung searah (teacher centered) dengan metode ceramah bervariasi.
C.    Pembatasan Masalah
Peneliti membatasi penelitian eksperimen ini sebagai berikut:
1.      Model pembelajaran  yang diterapkan dalam pembelajaran  fisika pada kelas VII MTsN Gadut Bunga Setangkai yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dan Guided Discovery Learning.
2.      Penelitian ini hanya dilaksanakan pada pelajaran Fisika kelas VII materi Besaran dan Satuan
D.    Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together pada model pembelajaran Guided Discovery siswa mampu berpikir secara kritis?
E.     Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui apakah dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together pada model pembelajaran Guided Discovery mampu membuat siswa berpikir kritis
2.      Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together pada model pembelajaran Guided Discovery dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
F.     Kegunaan Penelitian
Adapun yang menjadi manfa’at atau kegunaan dari penelitian ini yaitu :
a.    Bagi Guru
Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi guru IPA-fisika di MTsN Gadut Bunga Setangkai dalam melaksanakan proses belajar dan mengajar guna meningkatkan hasil belajar siswa
b.    Bagi siswa
Sebagai pengalaman baru bagi siswa MTsN Gadut Bunga Setangkai dan diharapkan dapat meningkatkan motivasi, keaktifan, minat, serta  pemahaman siswa dalam belajar fisika berpikir kritis dalam menemukan konsep dan memecahkan suatu konflik serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
c.    Bagi Penulis
Pengalaman dan bekal pengetahuan bagi penulis dalam mengajar nantinya.
d.    Bagi Sekolah
Memberi sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah guna meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah tersebut.



BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Landasan Teori
1.      Belajar dan Pembelajaran
Belajar dan pembelajaran merupakan dua istilah yang dua istilah yang selalu berkaitan. Agar proses pembelajaran dapat dapat berlangsung, maka mesti ada peserta didik yang belajar dan pendidik yang berperan sebagai perancang, pelaksana, fasilitator, pembimbing dan penilai proses dan hasil pembelajaran.
Spears mendefenisikan belajar sebagai kegiatan mengobservasi , membaca, mengintimidasi, mencoba sesuatu, mendengar dan mengikuti perintah. Menurut Geoch belajar adalah perubahan kemampuan dan keterampilan sebagai hasil dari praktik yang dilakukan (Jufri, 2012 : 37).
Sedangkan Pembelajaran adalah terjemahan dari bahasa Inggris intruction yang banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi koqnitif holistik yang menempatkan peserta didik sebagai sumber kegiatan. Istilah ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang diasumsikan dapat membantu peserta didik belajar melalui berbagai media seperti bahan-bahan cetak, program televisi, gambar, audio, dan sebagainya (Jufri, 2012 : 40).
2.      Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran dimana peserta didik diorganisasikan untuk bekerja dan belajar dalam kelompok yang memiliki aturan-aturan tertentu. Dalam pembelajaran kooperatif peserta didik dikondisikan untuk belajar bersama-sama dalam kelompok yang bersifat heterogen dari segi kemampuan akademik, etnis, dan jenis kelamin untuk membahas pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang terkait dengan pelajaran yang dihadapkan kepadanya (Tinzmann; Ahern-Rindell dalam Jufri, 2012 : 112).
3.      Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together
Numbered Heads Together merupakan rangkaian penyampaian materi dengan menggunakan kelompok sebagai wadah dalam menyatukan persepsi/pikiran siswa terhadap pertanyaan yang dilontarkan atau diajukan guru, yang kemudian akan dipertanggung jawabkan oleh siswa sesuai dengan nomor permintaan guru dari masing-masing kelompok. Dengan demikian, dalam kelompok siswa diberi nomor masing-masing sesuai dengan urutannya.
Pembelajaran dengan model Numbered Heads Together diawali dengan Numbering. Guru membagi-bagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil (Istarani, 2011 : 12).
Lankah-langkah Numbered Heads Together adalah:
1.      Peserta didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2.      Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
3.      Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakan/mengetahui jawabannya.
4.      Guru memanggil salah satu nomor peserta didik dan peserta didik yang nomornya dipanggil melaporkan hasil kerja sama diskusi kelompoknya.
5.      Tanggapan dari teman lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain dan seterusnya
6.      Kesimpulan
4.      Model Guided Discovery Learning
Metode Guided Discovery adalah metode discovery diartikan sebagai sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran, perseorangan, manipulasi objek dan lain-lain percobaan sebelum sampai pada generalisasi.sebelum siswa sadar akan pengertian, guru tidak menjelaskan dengan kata-kata.penggunaan metode discovery dalam proses belajar mengajar, memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri inormasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja (Lisfiani,dkk, 2016).
Hamalik, 2006 dalam (Widura, dkk, 2015) menyatakan bahwa guided discovery learning merupakan sistem dua arah dimana proses pembelajarannya melibatkan siswa dan guru. Siswa melakukan penemuan (discovery) dan guru berperan dalammemberikan bimbingan (guided) dengan menganalisis kesulitan dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh siswa. Sintaks guided discovery learning meliputi (Veermans, 2003) dalam (Widura, dkk, 2015):
1.      Orientation
2.      Hypothesis generation
3.      Hypothesis testing
4.      Conclution
5.      Regulations
Menurut Hamdani (2010 : 185) langkah-langkah guided discovery, yaitu :
a.       Adanya problema yang akan dipecahkan, dinyatakan dalam pertanyaan atau pernyataan
b.      Jelas tingkat atau kelasnya
c.       Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui kegiatan tersebut perlu ditulis dengan jelas
d.      Alat atau bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan
e.       Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan
f.        Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan atau percobaan atau menemukan konsep atau prinsip yang telah ditetapkan
g.      Proses berfikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan.
h.      Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa.
i.        Adanya catatan guru meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil, terutama penyelidikan yang mengalami kegagalan atau tidak berjalan sebagaimana seharusnya.
5.      Berpikir Kritis
Jhonson dalam Jufri (2012 : 44) mengemukakan bahwa keterampilan berpikir dapat dibedakan menjadi berpikir kritis dan nerpikir kreatif. Kedua jenis kemampuan berpikir ini disebut sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi. Berpikir kritis merupakan proses mental yang terorganisir dengan baik dan berperan dalam proses mengambil keputusan untuk memecahkan masalah dengan menganalisis dan menginterpretasi data dalam kegiatan inkuiri ilmiah.
B.     Penelitian Relevan
Penelitian relevan dalam penelitian ini pernah dilakukan oleh :
1.      Lisfiyani, Eko Supraptono, Arofah 2016 dengan penelitian yang berjudul “Penerapan Guided Discovery dalam Pembelajaran Materi Ajar Mengidentifikasi Kategori Multi Media
Penelitian ini membuktikan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran guided discovery  dapat meningkatkan kemampuan siswa dan meningkatkan keaktifan siswa selama proses pelaksanaan pembelajaran
2.      D.Rahmawati,S.E. Nugroho, N. M. D. Putra 2014 dengan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together Berbasis Eksperimen untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMP
Penelitian ini membuktikan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together berbasis eksperiment dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa dalam kategori sedang.
3.      Hakim Surya Widura, Puguh Karyanto, Joko Ariyanto 2015  dengan penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Guided Discovery Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X SMA Negeri 8 Surakarta Tahun Pelajaran 2014/2015
Penelitian ini membuktikan model guided discovery learning berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X SMA Negeri 8 Surakarta.
4.      Artika Dharmawati, Ersanghono Kusuma dan Sri Nurhayati 2013 dengan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Numbered Head Together Berbantuan Question and Answer Card pada Materi Hidrokarbon
Penelitian ini membuktikan model pembelajaran Kooperatif tipe numbered heads together berbantuan Qution Card and Answer card memiliki pengaruh positif terhadap hasil belajar kimia siswa pada materi hidrokarbon SMA Negeri 3 Wonogiri.
Perbedaan penelitian ini dengan keempat penelitian diatas, penelitian ini menerapkan dua model pembelajaran yang dipadu menjadi satu yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together pada model pembelajaran guided discovery, sedangkan pada keempat penelitian diatas model pembelajaran yang digunakan hanya satu.
C.    KERANGKA KONSEPTUAL
Dalam penelitian ini,penulis menggunakan variabel bebas yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads together pada model pembelajaran guided discovery serta satu variabel kontrol. Variabel terikatnya yaitu kemampuan berpikir kritis siswa dinilai dari hasil belajar kognitif siswa, apakah ada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together pada model pembelajaran guided discovery dengan model pembelajaran guided discovery saja. Sedangkan variabel kontrolnya adalah materi dari kurikulum yang sama dan penempatan kelas yang sama.
Kerangka konseptual ini menjelaskan bahwa proses pembelajaran berlangsung karena adanya interaksi antara guru dengan siswa yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pada kelas eksperimen guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together pada model pembelajaran guided discovery  sedangkan pada kelas control guru menerapkan model pembelajaran guided discovery. Kelas yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together pada model pembelajaran guided discovery diharapkan banyak melakukan aktivitas belajar dan siswa lebih aktif dibandingkan pendidik. Pada pembelajaran ini siswa dituntut untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh pendidik.






Tujuan
 
Gambar 2.3 Bagan Kerangka Konseptual


















Kemampuan berpikir kritis
 
 















D.    HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis dalam penelitian ini ada dua yaitu :
1.    Hipotesis Nol (H0)                           : Penerapan model pembelajaran  kooperatif tipe numbered heads together pada model pembelajaran guided discovery  tidak mampu membuat siswa berpikir kritis.
2.    Hipotesis Kerja (H1)                        : Penerapan model pembelajaran kooeratif tipe numbered heads together pada model pembelajaran guided discovery  mampu membuat siswa berpikir kritis.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah yang menggunakan metode Eksperiment semu (Quasy Eksperimental). Suryabrata (2010) dalam (Debora, 2015) mengatakan, “Tujuan penelitian eksperimen semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol atau memanipulasikan semua variabel yang relevan”.
Adapun model rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah ”Randomized Control Group Only Design”. Rancangan penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
      Tabel 3.1 : Rancangan Penelitian
Kelas sampel
Perlakuan
Tes
Eksperimen 1
X1
T
Kontrol
X2
T
(Sumber : Suryabrata, 2010 dalam Vebbrya, 2015
Keterangan :
X1 =  Pembelajaran dengan menggunakan penerapan model pembelajaran  kooperatif  Tipe Numbered Heads Together pada model pembelajaran Guided Discovery.
X2 = pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Guided Discovery.
T   =   Tes akhir pada kelas sampel





B.     Populasi dan sampel
1.      Populasi
Menurut Sudjana (2005) dalam (Debora, 2015) “Populasi adalah seluruh sumber data yang memungkinkan memberi informasi yang berguna bagi masalah pendidikan”.
Sebelum dilakukan penelitian, maka terlebih dahulu ditentukan populasi penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas  VII MTsN Gadut Bunga Setangkai Tahun pelajaran 2015/2016. Sebagai gambaran populasi siswa kelas VII MTsN Gadut Bunga Setangkai Tahun pelajaran 2015/2016.

Tabel 3.2 :
Jumlah Siswa Kelas  VII MTsN Gadut Bunga Setangkai
Tahun Pelajaran 2015/2016

No
Kelas
Jumlah Siswa
1
VII 1
27
2
VII 2
25
3
VII 3
25

Jumlah
77
( Sumber: Tata Usaha MTsN Gadut Bunga Setangkai, TP 2015/2016)

2.      Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti, artinya segala karakteristik populasi tergambar dalam sampel. Sehubungan adanya 3  populasi dan keterbatasan waktu, dana dan tenaga yang ada pada penulis, maka penelitian ini dilakukan terhadap dua kelas yang merupakan wakil dari populasi pada semester ganjil tahun ajaran 2015/2016. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cluster Random Sampling (teknik acak berkelompok) (Suryabrata:2010) dalam (Debora, 2015).
Sebelum dilakukan teknik Random Sampling ini, terlebih dahulu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Dilakukan pengumpulan data nilai Ujian Mid Semester fisika siswa kelas VII MTsN Gadut Bunga Setangkai.
2)      Data yang telah diperoleh dianalisis dengan melakukan uji normalitas, uji Homogenitas, Variansi Populasi dan uji Kesamaan rata-rata

a)      Uji normalitas
Uji normalitas populasi bertujuan untuk melihat apakah populasi berdistribusi normal atau tidak.
b)      Kemudian lakukan uji homogenitas variansi
Uji homogenitas variansi ini dilakukan untuk mengetahui apakah populasi mempunyai variansi yang homogen atau tidak.
c)      Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terdapat semua kelas yang memenuhi syarat yaitu : VII1,VII2 dan VII3,  yang berdistribusi normal dan homogen.
Apabila pengujian yang diperoleh adalah ketiga kelas berdistribusi normal dan homogen. Sehingga untuk pengambilan sampel dilakukan secara Cluster Random Sampling atau secara acak dengan menggunakan undian. Kelas yang terambil pertama adalah kelas eksperimen dan kelas yang terambil kedua adalah kelas control.
C.    Variabel dan data
a.         Variabel
Variabel diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Sering pula dinyatakan variabel peneitian itu sebagai faktor-faktor yang berperanan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti (Suryabrata, 2010) dalam (Debora, 2015). Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah:
1)        Variabel bebas dalam penelitian adalah perlakuan yang diberikan pada sampel penelitian yaitu untuk kelas eksperimen menggunakan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together pada model pembelajaran Guided Discovery dan untuk kelas kontrol menggunakan model pembelajaran Guided Discovery.
2)        Variabel terikat adalah Variabel terikat pada penelitian adalah aktivitas dan kemampuan berpikir kritis yang dilihat dari hasil belajar Fisika siswa dimana semuanya diperoleh berdasarkan lembar observasi selama proses pembelajaran dan tes yang diberikan pada akhir penelitian.
3)        Variabel kontrol variabel yang dapat meminimalkan pengaruhnya terhadap variabel terikat. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah:
a)      Guru yang mengajar pada kelas sampel sama
b)      Materi yang diajarkan sama
c)      Jam pelajaran yang digunakan tidak sama sedangkan lama waktunya sama.
b.         Jenis Data dan Sumber Data
1.      Jenis Data
Data penelitian ini ada dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Menurut  Suryabrata (2010) dalam (Debora, 2015), data primer adalah data yang diperoleh langsung oleh dari responden atau sumber utamanya. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang telah ada.
2.      Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah:
a.    Siswa kelas VII MTsN Gadut Bunga Setangkai Tahun Ajaran 2015/2016
b.   Tata usaha MTsN Gadut Bunga Srtangkai untuk mendapatkan data sekunder.
c.    Guru bidang studi IPA (Fisika) MTsN Gadut Bunga Setangkai
D.    Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat pengumpul data yang digunakan dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini digunakan instrumen berbentuk lembar observasi dan tes akhir hasil belajar fisika yang dilaksanakan setelah eksperimen berlangsung. Tes ini bertujuan untuk melihat kemampuan berpikir kritis melalui hasil belajar  siswa setelah diberikan perlakuan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together pada model pembelajaran guided discovery di kelas eksperimen dan pada kelas kontrol diterapkan model pembelajaran Guided discovery.  Tes yang peneliti gunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa  pada ranah kognitif adalah tes hasil belajar (tes objektif) dan aktivitas belajar berupa lembaran observasi.
1.      Lembar Observasi Aktifitas Belajar
Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah lakunya Slameto dalam (Debora, 2015). Aktivitas siswa yang akan diamati dalam proses pembelajaran ini berpedoman pada pendapat Paul. B. Diedrich yang dikutip Sardiman dalam (Debora, 2015).
2.      Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar siswa dilakukan pada akhir pertemuan. Tujuannya untuk memperoleh data tentang hasil belajar fisika siswa selama melaksanakan penelitian. Materi yang diujikan dalam tes sesuai dengan materi yang diberikan selama penelitian.
E.     Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui persyaratan analisis terlebih dahulu dicari rata-rata, simpangan baku dan varians ketiga sampel, kemudian dilakukan uji normalitas, uji homogenitas ketiga kelas sampel (Debora, 2015).
a.         Uji Normalitas
Uji normalitas populasi bertujuan untuk melihat apakah populasi berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Liliefors (Sudjana dalam Debora, 2015).
b.         Uji Homogenitas Variansi
Uji homogenitas variansi ini dilakukan untuk melihat apakah kedua kelompok data mempunyai variansi yang homogen atau tidak. Untuk menguji kesamaan variansi digunakan uji Barlett (Sudjana dalam  Mardianti, 2011: 62).
c.         Uji kesamaan dua rata-rata populasi
Uji kesamaan dua rata-rata dilakukan untuk mengetahui apakah populasi memiliki kesamaan rata-rata atau tidak. Uji ini dilakukan dengan uji variansi satu arah (Mardianti, 2011: 63).
d.         Uji Hipotesis
Pengujian ini dilakukan untuk menentukan apakah hasil belajar siswa pada kelas eksperimen melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together pada model pembelajaran guided discovery lebih baik dari pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran guided discovery. Untuk pengujiannya dilakukan dengan uji t yang dikemukakan oleh sudjana dalam Mardianti, 2011 :66).

F.     Prosedur Penelitian
Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan disusun prosedur yang sistematis. Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian.

1)   Tahap Persiapan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian.

2)   Tahap Pelaksanaan
Proses pembelajaran yang dilakukan dalam pelaksanaan penelitian berbeda antar kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen menggunakan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together pada model pembelajaran Guided Discovery  serta  kelas kontrol menggunakan model pembelajaran Guided Discovery. Skenario pembelajaran kelas eksperimen dan kelas kontrol seperti pada tabel ini.



Table 3.3 Skenario Pembelajaran Pada Kelas Eksperimen I, II dan Kelas Kontrol
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol

1.      Kegiatan pendahuan
a)      Guru mengabsen siswa dan mempersiapkan kondisi kelas untuk belajar
b)      Guru menyampaikan apersepsi kepada siswa untuk membangkitkan ingatan siswa tentang meteri terdahulu
c)      Guru memberikan motivasi kepada siswa untuk menimbulkan minat belajar siswa
d)      Guru menyampaikan pokok bahasan dan tujuan pelajaran

2.      Kegiatan inti
Langkah-langkah Penerapan NHT pada Guided Discovery Learning
a.    Eksplorasi
1.      Guru membagi siswa beberapa kelompok dengan anggota masing-masing kelompok sebanyak 4 orang. Setiap kelompok diberi nomor siswa 1-4
2.      Guru memberikan suatu masalah (problem) kepada siswa dan menuliskan konsep dan prinsip yang harus ditemukan siswa dalam pembelajaran serta guru menyiapkan alat dan bahan yang di perlukan siswa dalam melaksanakan kegiatan
3.      Guru memberikan pengarahan kepada siswa sebelum memulai kegiatan
4.      Kemudian setiap siswa dalam kelompok melakukan penyelidikan  berupa percobaan atau menemukan konsep dan prinsip yang telah ditetapkan
5.      Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka yang mengarah kepada kegiatan yang dilakukan siswa
6.      Guru mencatat hal-hal yang sulit atau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil, terutama penyelidikan yang mengalami kegagalan atau tidak berjalan sebagaimana harusnya

b.   Elaborasi
1.      Setelah masing-masing anggota kelompok selesai melakukan penyelidikan yang berupa percobaan maka guru memanggil salah satu nomor peserta didik dan peserta didik yang nomornya dipanggil melaporkan hasil penyelidikan atau percobaan yang mereka lakukan
2.      Kemudian siswa dari kelompok yang lain menanggapi
3.      Selanjutnya guru memanggil nomor yang lain dan ditanggapi lagi oleh kelompok lain, begitu seterusnya sampai selesai
c.    konfirmasi
Guru membimbing siswa dalam kegiatan diskusi dan memberikan pembenaran serta koreksi terhadap diskusi siswa
3.      Kegiatan penutup
a.       Guru dan siswa menyimpulkan bersama materi pelajaran
b.      Guru memberikan tugas kepada siswa atau pengayaan
c.       Guru menutup pelajaran dengan membaca hamdalllah

1.      Kegiatan pendahuluan
a.       Guru mengabsen siswa dan mempersiapkan kondisi kelas untuk belajar
b.      Guru menyampaikan apersepsi kepada siswa untuk membangkitkan ingatan siswa tentang meteri terdahulu
c.       Guru memberikan motivasi kepada siswa untuk menimbulkan minat belajar siswa
d.      Guru menyampaikan pokok bahasan dan tujuan pelajaran


2.      Kegiatan inti
Langkah-langkah Guided Discovery Learning
a. Eksplorasi
1.  Guru memberikan sebuah masalah kepada siswa baik berupa pertanyaan maupun pernyataan serta menuliskan konsep dan prinsip yang harus ditemukan siswa
2.  Guru menyediakan alat ayng dibutuhkan siswa untuk melakukan kegiatan dan menyampaikan pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan
3.  Kemudian siswa melakukan percobaan atau menemukan konsep dan prinsip yang telah ditetapkan
4.  Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka yang mengarahkan siswa pada kegiatan yang dilakukan
5.  Guru mencatat hal-hal yang sulit atau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil, terutama penyelidikan yang mengalami kegagalan atau tidak berjalan sebagaimana harusnya

b. Elaborasi
1.     Masing-masing siswa melaporkan hasil penyelidikan yang telah dilakukan dan di tanggapi oleh siswa yang lain


c. Konfirmasi
§  Guru memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan,  isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik
§  Siswa melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan

v   3. Kegiatan penutup
a.    Bersama-sama dengan peserta didik atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran
b.   Guru memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran
c.    Guru Menyampaikan rencana pembelajaran pada per­temuan berikutnya
d.   Guru menutup pelajaran dengan membaca hamdalllah



3)        Tahap Penyelesaian
a.              Pada tahap ini guru memberikan tes pada kedua kelas sampel setelah pokok materi selesai diberikan. Tes yang diberikan berupa tes pilihan berganda.
b.             Mengolah data dari kedua kelas sampel, baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol .
c.              Menarik kesimpulan dari hasil yang diperoleh sesuai dengan teknis analisis yang digunakan.


 
Daftar Pustaka

Debora, Vebbrya Alberti. 2015. Perbandingan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tip Co-op Co-op dengan Tipe Two Stay Two Stray (TS-TS) pada Mata Pelajaran IPA (Fisika) DI MTsN Durian Tarung. Skripsi. IAIN Imam Bonjol Padang.
Dharmawati, Artika. 2013. Penerapan Pembelajaran Numbered Heads Together Berbantuan Question And Answer Card Pada Materi Hidrokarbon. Jurnal. Universitas Negeri Semarang.
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia.
Istarani. 2011. 58 Model Pembelajaran Inovatif. Medan: Media Persada.
Jufri, Wahab. 2012. Belajar dan Pembelajaran Sains. Bandung: Pustaka Reka Cipta.
Lisfiani, dkk. 2016. Penerapan Guided Discovery Dalam Pembelajaran Materi Ajar Mengidentifikasi Kategori Multimedia. Jurnal. Universitas Negeri Semarang
Mardianti, Iif. 2011. Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Check Disertai Kuis dalam Pembelajaran Fisika Di Kelas VIII MTsN Lubuk Buaya Padang. Skripsi. IAIN Imam Bonjol Padang.
Rahmawati, dkk. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together Berbasis Eksperimen Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMP. Jurnal. Universitas Negeri Semarang
Widura, Hakim Surya, dkk. 2015. Pengaruh Model Guided Discovery Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X SMA Negeri 8 Surakarta Tahun Pelajaran 2014/2015. Jurnal. Universitas Sebelas Maret

Tidak ada komentar: