PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER PADA MODEL
PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY SEHINGGA SISWA MAMPU BERPIKIR SECARA KRITIS
Proposal
Diajukan
kepada dosen mata kuliah Metodologi Penelitian sebagai tugas kuliah
Oleh
Rahman
Al Hakim
1314080216
Dosen
Pembimbing
Milya
Sari, S.Pd, M.Si
JURUSAN
TADRIS IPA FISIKA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) IMAM BONJOL
PADANG
1437
H / 2016 H
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Pembelajaran
merupakan suatu proses yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kemampuan
berpikir siswa, serta meningkatkan kemampuan mengkontruksi pengetahuan baru
sebagai upaya untuk menguasai konsep materi pelajaran (Sagala dalam Widura,
dkk, 2015). Sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional (Permendiknas) No.23 tahun 2006, kemampuan berpikir yang perlu
dikembangkan dalam pembelajaran salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis
(Depdiknas dalam Widura, dkk, 2015). Berpikir kritis merupakan salah satu
bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi yang sangat esensial bagi
kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan (Oka
dalam Widura, dkk, 2015). Oleh sebab itu, berpikir kritis penting untuk
dikembangkan dalam proses pembelajaran sebagai bekal untuk menghadapi
permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat (Amri dan Ahmadi dalam Widura, dkk,
2015).
Keberhasilan
proses pembelajaran diukur berdasarkan ketercapaian kompetensi yang ditetapkan
sejak awal kegiatan pembelajaran. Semua pihak yang berpartisipasi aktif dalam
proses pembelajaran yaitu siswa dan guru telah mengetahui arah pembelajaran.
Kedua belah pihak perlu bekerja sama sedemikian rupa sehingga dapat tercapai
kompetensi yang ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperlukan
langkah-langkah agar tujuan yang ditetapkan dapat dicapai. Hal yang harus
dilakukan adalah menggunakan strategi belajar mengajar yang cocok dan sesuai
dengan pokokmateri yang disampaikan. Selain itu guru harus disiapkan supaya
memiliki kemampuan dan kreatifitas untuk mengembangkan konten media presentasi
dan pembelajaran yang menarik, interaktif,dan berdasarkan kurikulum yang benar
(Dharmawati, dkk, 2013).
Perubahan
kurikulum 1994 ke Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) antara lain
bertujuan untuk mengubah pola pendidikan dari orientasi terhadap hasil dan
materi menuju pendidikan sebagai proses. Pembelajaran dilakukan dengan
melibatkan semua peserta didik supaya mereka mampu bereksplorasi membentuk
kompetensi dengan menggali berbagai potensi dan kebenaran secara ilmiah.
Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dapat dikatakan siswa sudah
mengalami pendidikan sebagai suatu proses. Walaupun demikian, proses pembelajaran
dalam paradigma lama masih melekat padaproses pembelajaran saat ini. Kegiatan
belajar mengajar masih menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran yang pasif.
Padahal pembelajaran fisika bukan hanya menyampaikan konsep, fakta maupun
prinsip dengan hanya sekedar memberi materi dengan ceramah pembelajaran fisika
akan lebih berkesan dan terasa nyata jika siswa dilibatkan secara langsung
dalam proses pembelajaran misalnya dalam kegiatan eksperimen (Rahmawati,dkk,
2014).
Hasil
survei dilapangan yang dilakukan Padilla dalam Rahmawati, dkk (2014)
menunjukkan bahwa kurangnya pelatihan keterampilan proses sains khusus
disekolah menyebabkan siswa kelas 9 hanya 10 % yang dapat menjawab dengan benar
dari 700 sekolah yang ada. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kartikasari
dalam Rahmawati, dkk (2014) mengenai kurangnya pelatihan pelatihan untuk
meningkatkan keterampilan proses sains yang dimiliki oleh siswa. Hasil
penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 14 Surakarta menunjukkan keterampilan
proses sains yang dicapai siswa tingkat penguasaan aspek keterampilan proses
sains sebesar 60, 75 % dan tingkat penguasaan indikator keterampilan proses
sains siswa sebesar 60, 97%.
Data
yang diperoleh dari penelitian Padilla (1985) dan Kartikasari (2011),
menunjukkan bahwa keterampilan proses sains siswa masih rendah dan kurang
dikembangkan oleh guru. Penyebab rendahnya kterampilan proses sains yang
dimiliki siswa salah satunya adalah guru kurang memberikan kesempatan pada
seluruh siswa untuk ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Guru masih
mengandalkan metode ceramah tanpa melaksanakan pembelajaran yang berkaitan
dengan proses dan juga produk pembelajaran.keterampilan proses sains yang masih
rendah mengakibatkan siswa cenderung diam dalam kegiatan pembelajaran dan hanya
menerima informasi dari guru saja, belum ada usaha untuk mencari informasi yang
relevan dengan materi yang diajarkan guru ( Rahmawati, dkk , 2014 ).
Widura,
dkk (2015), menyatakan bahwa fakta dilapangan menunjukkan kondisi dimana proses
pembelajaran ,yang terjadi dikelas pada umumnya masih bersifat monoton dan
kurang menarik. Pembelajaran di dalam kelas cenderung hanya berlangsung searah
(teacher centered) dengan metode
ceramah bervariasi. Meskipun guru telah mencoba mengaktikan siswa dengan
melakukan tanya jawab dan pemberian tugas, tampaknya hal tersebut belum mampu
memotivasi siswa untuk berperan akti dalam pembelajaran, serta belum mampu
melatih proses berpikir kritis. akibatnya kemampuan berpikir kritis siswa
cenderung rendah. Selain berakibat pada rendahnya kemampuan berpikir kritis
siswa , proses pembelajaran yang monoton juga dapat menyebabkan siswa merasa
bosan, mengantuk, mengobrol dengan temannya dan sibuk mengerjakan PR atau tugas
mata pelajaran lain. Sehingga siswa menjadi pasif dan kurang kritis terhadap
materi pembelajaran.
Berdasarkan
uraian di atas, untuk mencari solusi dari masalah tersebut penulis bermaksud
untuk melakukan penelitian eksperimen dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together
pada Model Pembelajaran Guided Discovery Sehingga Siswa Mampu Berpikir Secara
Kritis”.
B.
Identifikasi
Masalah
Masalah
dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1.
Kegiatan
pembelajaran fisika masih menjadikan siswa sebagai objek yang pasif.
2.
Keterampilan
sains yang dimiliki siswa pada banyak sekolah masih sangat rendah dan kurang
dikembangkan oleh guru sehingga siswa cederung diam dalam kegiatan
pembelajaran.
3.
Siswa
hanya menerima informasi dari guru saja, belum ada usaha untuk mencari
informasi yang relevan dengan materi yang diajarkan guru.
4.
Pembelajaran
di dalam kelas cenderung hanya berlangsung searah (teacher centered) dengan metode ceramah bervariasi.
C.
Pembatasan
Masalah
Peneliti
membatasi penelitian eksperimen ini sebagai berikut:
1.
Model pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran fisika pada kelas VII
MTsN Gadut Bunga Setangkai
yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Numbered
Heads Together dan Guided Discovery
Learning.
2.
Penelitian
ini hanya dilaksanakan pada pelajaran Fisika kelas VII materi Besaran dan
Satuan
D.
Rumusan
Masalah
Rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah Apakah dengan penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Numbered Heads Together
pada model pembelajaran Guided Discovery
siswa mampu berpikir secara kritis?
E.
Tujuan
Penelitian
Adapun
yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:
1.
Untuk
mengetahui apakah dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together pada model
pembelajaran Guided Discovery mampu
membuat siswa berpikir kritis
2.
Untuk
mengetahui apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together pada model
pembelajaran Guided Discovery dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.
F.
Kegunaan
Penelitian
Adapun
yang menjadi manfa’at atau kegunaan dari penelitian ini yaitu :
a.
Bagi
Guru
Sebagai bahan
pertimbangan dan masukan bagi guru IPA-fisika di MTsN
Gadut Bunga Setangkai dalam melaksanakan proses belajar dan mengajar guna
meningkatkan hasil belajar siswa
b.
Bagi
siswa
Sebagai pengalaman baru bagi siswa
MTsN Gadut Bunga Setangkai dan diharapkan dapat meningkatkan
motivasi, keaktifan, minat, serta
pemahaman siswa dalam belajar fisika
berpikir kritis dalam menemukan konsep dan memecahkan suatu konflik serta menciptakan suasana belajar
yang menyenangkan.
c.
Bagi
Penulis
Pengalaman dan
bekal pengetahuan bagi penulis dalam mengajar nantinya.
d.
Bagi
Sekolah
Memberi sumbangan
yang positif terhadap kemajuan sekolah guna meningkatkan kualitas pembelajaran
di sekolah tersebut.
BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Landasan
Teori
1.
Belajar
dan Pembelajaran
Belajar
dan pembelajaran merupakan dua istilah yang dua istilah yang selalu berkaitan.
Agar proses pembelajaran dapat dapat berlangsung, maka mesti ada peserta didik
yang belajar dan pendidik yang berperan sebagai perancang, pelaksana, fasilitator,
pembimbing dan penilai proses dan hasil pembelajaran.
Spears
mendefenisikan belajar sebagai kegiatan mengobservasi , membaca,
mengintimidasi, mencoba sesuatu, mendengar dan mengikuti perintah. Menurut
Geoch belajar adalah perubahan kemampuan dan keterampilan sebagai hasil dari
praktik yang dilakukan (Jufri, 2012 : 37).
Sedangkan
Pembelajaran adalah terjemahan dari bahasa Inggris intruction yang banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi koqnitif
holistik yang menempatkan peserta didik sebagai sumber kegiatan. Istilah ini
juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang diasumsikan dapat membantu
peserta didik belajar melalui berbagai media seperti bahan-bahan cetak, program
televisi, gambar, audio, dan sebagainya (Jufri, 2012 : 40).
2.
Model
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran dimana peserta didik
diorganisasikan untuk bekerja dan belajar dalam kelompok yang memiliki
aturan-aturan tertentu. Dalam pembelajaran kooperatif peserta didik dikondisikan
untuk belajar bersama-sama dalam kelompok yang bersifat heterogen dari segi
kemampuan akademik, etnis, dan jenis kelamin untuk membahas
pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang terkait dengan pelajaran yang
dihadapkan kepadanya (Tinzmann; Ahern-Rindell dalam Jufri, 2012 : 112).
3.
Pembelajaran
Kooperatif Tipe Numbered Heads Together
Numbered Heads Together
merupakan rangkaian penyampaian materi dengan menggunakan kelompok sebagai
wadah dalam menyatukan persepsi/pikiran siswa terhadap pertanyaan yang
dilontarkan atau diajukan guru, yang kemudian akan dipertanggung jawabkan oleh
siswa sesuai dengan nomor permintaan guru dari masing-masing kelompok. Dengan
demikian, dalam kelompok siswa diberi nomor masing-masing sesuai dengan
urutannya.
Pembelajaran
dengan model Numbered Heads Together
diawali dengan Numbering. Guru
membagi-bagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil (Istarani, 2011 : 12).
Lankah-langkah
Numbered Heads Together adalah:
1.
Peserta
didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok
mendapat nomor.
2.
Guru
memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
3.
Kelompok
mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat
mengerjakan/mengetahui jawabannya.
4.
Guru
memanggil salah satu nomor peserta didik dan peserta didik yang nomornya
dipanggil melaporkan hasil kerja sama diskusi kelompoknya.
5.
Tanggapan
dari teman lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain dan seterusnya
6.
Kesimpulan
4.
Model
Guided Discovery Learning
Metode
Guided Discovery adalah metode discovery diartikan sebagai sebagai suatu
prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran, perseorangan, manipulasi objek
dan lain-lain percobaan sebelum sampai pada generalisasi.sebelum siswa sadar
akan pengertian, guru tidak menjelaskan dengan kata-kata.penggunaan metode
discovery dalam proses belajar mengajar, memperkenankan siswa-siswanya
menemukan sendiri inormasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau
diceramahkan saja (Lisfiani,dkk, 2016).
Hamalik,
2006 dalam (Widura, dkk, 2015) menyatakan bahwa guided discovery learning
merupakan sistem dua arah dimana proses pembelajarannya melibatkan siswa dan
guru. Siswa melakukan penemuan (discovery)
dan guru berperan dalammemberikan bimbingan (guided) dengan menganalisis kesulitan dalam memecahkan masalah yang
dihadapi oleh siswa. Sintaks guided
discovery learning meliputi (Veermans, 2003) dalam (Widura, dkk, 2015):
1.
Orientation
2.
Hypothesis
generation
3.
Hypothesis
testing
4.
Conclution
5.
Regulations
Menurut
Hamdani (2010 : 185) langkah-langkah guided discovery, yaitu :
a. Adanya problema yang akan
dipecahkan, dinyatakan dalam pertanyaan atau pernyataan
b. Jelas tingkat atau kelasnya
c. Konsep atau prinsip yang harus
ditemukan siswa melalui kegiatan tersebut perlu ditulis dengan jelas
d. Alat atau bahan perlu disediakan
sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan
e. Diskusi sebagai pengarahan sebelum
siswa melaksanakan kegiatan
f.
Kegiatan
metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan atau percobaan atau menemukan
konsep atau prinsip yang telah ditetapkan
g. Proses berfikir kritis perlu
dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan
dalam kegiatan.
h. Perlu dikembangkan
pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang
dilakukan siswa.
i.
Adanya
catatan guru meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi hasil, terutama penyelidikan yang mengalami kegagalan
atau tidak berjalan sebagaimana seharusnya.
5.
Berpikir
Kritis
Jhonson
dalam Jufri (2012 : 44) mengemukakan bahwa keterampilan berpikir dapat
dibedakan menjadi berpikir kritis dan nerpikir kreatif. Kedua jenis kemampuan
berpikir ini disebut sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi. Berpikir
kritis merupakan proses mental yang terorganisir dengan baik dan berperan dalam
proses mengambil keputusan untuk memecahkan masalah dengan menganalisis dan
menginterpretasi data dalam kegiatan inkuiri ilmiah.
B.
Penelitian
Relevan
Penelitian
relevan dalam penelitian ini pernah dilakukan oleh :
1.
Lisfiyani,
Eko Supraptono, Arofah 2016 dengan penelitian yang berjudul “Penerapan Guided Discovery dalam
Pembelajaran Materi Ajar Mengidentifikasi Kategori Multi Media”
Penelitian ini membuktikan bahwa pembelajaran dengan model
pembelajaran guided discovery dapat
meningkatkan kemampuan
siswa dan meningkatkan keaktifan siswa selama proses
pelaksanaan pembelajaran
2.
D.Rahmawati,S.E.
Nugroho, N. M. D. Putra 2014 dengan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Numbered Heads Together Berbasis Eksperimen untuk Meningkatkan Keterampilan
Proses Sains Siswa SMP”
Penelitian ini
membuktikan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together berbasis eksperiment dapat meningkatkan
keterampilan proses sains siswa dalam kategori sedang.
3.
Hakim
Surya Widura, Puguh Karyanto, Joko Ariyanto 2015 dengan penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Guided Discovery Learning
Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X SMA Negeri 8 Surakarta Tahun
Pelajaran 2014/2015”
Penelitian ini
membuktikan model guided discovery learning berpengaruh terhadap kemampuan
berpikir kritis siswa kelas X SMA Negeri 8 Surakarta.
4.
Artika
Dharmawati, Ersanghono Kusuma dan Sri Nurhayati 2013 dengan penelitian yang
berjudul “Penerapan Model Pembelajaran
Numbered Head Together Berbantuan Question and Answer Card pada Materi
Hidrokarbon”
Penelitian ini membuktikan model
pembelajaran Kooperatif tipe numbered heads
together berbantuan Qution Card and Answer card memiliki pengaruh positif
terhadap hasil belajar kimia siswa pada materi hidrokarbon SMA Negeri 3
Wonogiri.
Perbedaan penelitian ini dengan keempat penelitian diatas, penelitian
ini menerapkan dua model pembelajaran yang dipadu menjadi satu yaitu penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe numbered
heads together pada model pembelajaran guided
discovery, sedangkan pada keempat penelitian diatas model pembelajaran yang
digunakan hanya satu.
C.
KERANGKA KONSEPTUAL
Dalam
penelitian
ini,penulis menggunakan variabel bebas yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered
Heads together pada model pembelajaran guided
discovery serta satu variabel kontrol. Variabel terikatnya yaitu kemampuan berpikir
kritis siswa dinilai dari hasil belajar kognitif siswa, apakah ada pengaruh penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe numbered heads together pada
model pembelajaran guided discovery
dengan model pembelajaran guided
discovery saja. Sedangkan variabel kontrolnya adalah materi dari kurikulum
yang sama dan penempatan kelas yang sama.
Kerangka konseptual ini menjelaskan bahwa proses pembelajaran berlangsung
karena adanya interaksi antara guru dengan siswa yang saling mempengaruhi satu
sama lain. Pada kelas eksperimen guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe numbered
heads together pada model pembelajaran guided
discovery sedangkan pada kelas
control guru menerapkan
model pembelajaran guided discovery. Kelas yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together
pada model pembelajaran guided discovery diharapkan
banyak melakukan aktivitas belajar dan siswa lebih aktif dibandingkan pendidik.
Pada pembelajaran ini siswa dituntut untuk dapat menyelesaikan permasalahan
yang diberikan oleh pendidik.
|
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
|
|||||||
D.
HIPOTESIS
PENELITIAN
Hipotesis dalam penelitian
ini ada dua yaitu :
1.
Hipotesis Nol (H0) : Penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together pada model
pembelajaran guided discovery tidak mampu membuat siswa berpikir kritis.
2.
Hipotesis Kerja (H1) : Penerapan model pembelajaran kooeratif
tipe numbered heads together pada
model pembelajaran guided discovery mampu membuat siswa berpikir kritis.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
Jenis penelitian ini adalah yang menggunakan metode
Eksperiment semu (Quasy Eksperimental).
Suryabrata (2010) dalam (Debora, 2015) mengatakan, “Tujuan penelitian
eksperimen semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi
informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen sebenarnya dalam keadaan yang
tidak memungkinkan untuk mengontrol atau memanipulasikan semua variabel yang
relevan”.
Adapun model rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
”Randomized Control Group Only Design”.
Rancangan penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 3.1 : Rancangan Penelitian
|
Kelas sampel
|
Perlakuan
|
Tes
|
|
Eksperimen 1
|
X1
|
T
|
|
Kontrol
|
X2
|
T
|
(Sumber :
Suryabrata, 2010 dalam Vebbrya, 2015
Keterangan :
X1 = Pembelajaran dengan menggunakan penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Numbered Heads Together pada model
pembelajaran Guided Discovery.
X2 = pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran Guided
Discovery.
T =
Tes akhir pada kelas sampel
B. Populasi dan sampel
1. Populasi
Menurut Sudjana (2005) dalam (Debora, 2015) “Populasi
adalah seluruh sumber data yang memungkinkan memberi informasi yang berguna
bagi masalah pendidikan”.
Sebelum dilakukan penelitian, maka terlebih dahulu
ditentukan populasi penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
siswa kelas VII MTsN Gadut Bunga
Setangkai Tahun pelajaran 2015/2016. Sebagai gambaran populasi siswa kelas VII MTsN Gadut
Bunga Setangkai Tahun pelajaran 2015/2016.
Tabel 3.2 :
Jumlah Siswa Kelas VII MTsN Gadut
Bunga Setangkai
Tahun
Pelajaran 2015/2016
|
No
|
Kelas
|
Jumlah Siswa
|
|
1
|
VII 1
|
27
|
|
2
|
VII 2
|
25
|
|
3
|
VII 3
|
25
|
|
|
Jumlah
|
77
|
( Sumber: Tata Usaha MTsN Gadut Bunga Setangkai, TP 2015/2016)
2.
Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang
diteliti, artinya segala karakteristik populasi tergambar dalam sampel.
Sehubungan adanya 3 populasi dan
keterbatasan waktu, dana dan tenaga yang ada pada penulis, maka penelitian ini
dilakukan terhadap dua kelas yang merupakan wakil dari populasi pada semester
ganjil tahun ajaran 2015/2016. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Cluster Random Sampling (teknik acak berkelompok) (Suryabrata:2010)
dalam (Debora, 2015).
Sebelum
dilakukan teknik Random Sampling ini, terlebih dahulu dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
1)
Dilakukan
pengumpulan data nilai Ujian Mid Semester fisika siswa kelas VII MTsN Gadut
Bunga Setangkai.
2)
Data yang telah
diperoleh dianalisis dengan melakukan uji normalitas, uji Homogenitas,
Variansi Populasi dan uji Kesamaan rata-rata
a) Uji
normalitas
Uji
normalitas populasi bertujuan untuk melihat apakah populasi berdistribusi
normal atau tidak.
b)
Kemudian lakukan uji homogenitas variansi
Uji homogenitas variansi ini dilakukan untuk
mengetahui apakah populasi mempunyai variansi
yang homogen atau tidak.
c)
Setelah dilakukan uji normalitas dan uji
homogenitas terdapat semua kelas yang memenuhi syarat yaitu : VII1,VII2
dan VII3, yang
berdistribusi normal dan homogen.
Apabila pengujian yang diperoleh adalah ketiga kelas
berdistribusi normal dan homogen. Sehingga untuk pengambilan sampel dilakukan
secara Cluster Random Sampling atau
secara acak dengan menggunakan undian. Kelas yang terambil pertama adalah kelas
eksperimen dan kelas yang terambil kedua adalah kelas control.
C. Variabel dan data
a.
Variabel
Variabel diartikan
sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Sering
pula dinyatakan variabel peneitian itu sebagai faktor-faktor yang berperanan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti
(Suryabrata, 2010) dalam (Debora, 2015). Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini
adalah:
1)
Variabel bebas dalam penelitian adalah
perlakuan yang diberikan pada sampel penelitian yaitu untuk kelas eksperimen
menggunakan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together pada model pembelajaran Guided Discovery dan untuk kelas kontrol
menggunakan model pembelajaran Guided
Discovery.
2)
Variabel terikat adalah Variabel terikat
pada penelitian adalah aktivitas dan kemampuan berpikir kritis yang dilihat
dari hasil belajar Fisika siswa dimana semuanya diperoleh berdasarkan lembar
observasi selama proses pembelajaran dan tes yang diberikan pada akhir
penelitian.
3)
Variabel kontrol variabel yang dapat
meminimalkan pengaruhnya terhadap variabel terikat. Variabel kontrol dalam penelitian
ini adalah:
a) Guru
yang mengajar pada kelas sampel sama
b) Materi
yang diajarkan sama
c) Jam
pelajaran yang digunakan tidak sama sedangkan lama waktunya sama.
b.
Jenis
Data dan Sumber Data
1. Jenis
Data
Data
penelitian ini ada dua jenis yaitu
data primer dan data sekunder. Menurut
Suryabrata (2010) dalam (Debora, 2015), data primer adalah data yang
diperoleh langsung oleh dari responden atau sumber utamanya. Sedangkan data
sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang telah ada.
2. Sumber
Data
Sumber data
dalam penelitian ini
adalah:
a. Siswa kelas VII
MTsN Gadut Bunga Setangkai Tahun Ajaran 2015/2016
b. Tata usaha MTsN
Gadut Bunga Srtangkai untuk mendapatkan data sekunder.
c. Guru bidang studi IPA (Fisika) MTsN Gadut Bunga Setangkai
D. Instrumen Penelitian
Instrumen
penelitian merupakan alat pengumpul data yang digunakan dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini
digunakan instrumen berbentuk lembar observasi dan tes akhir hasil belajar fisika yang
dilaksanakan setelah eksperimen berlangsung. Tes ini bertujuan untuk melihat kemampuan
berpikir kritis melalui hasil belajar siswa setelah diberikan perlakuan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together pada
model pembelajaran guided discovery di kelas eksperimen dan pada kelas kontrol diterapkan
model pembelajaran Guided
discovery. Tes yang peneliti gunakan untuk mengetahui
hasil belajar siswa pada ranah kognitif
adalah tes hasil belajar (tes objektif) dan aktivitas belajar berupa lembaran
observasi.
1.
Lembar
Observasi Aktifitas Belajar
Observasi
merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah
lakunya Slameto dalam (Debora,
2015).
Aktivitas siswa yang akan diamati dalam proses
pembelajaran ini berpedoman pada pendapat
Paul. B. Diedrich yang dikutip Sardiman dalam
(Debora, 2015).
2. Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar siswa dilakukan pada akhir
pertemuan. Tujuannya untuk memperoleh data tentang hasil belajar fisika siswa
selama melaksanakan penelitian. Materi
yang diujikan dalam tes sesuai dengan materi yang diberikan selama penelitian.
E. Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui persyaratan analisis terlebih dahulu
dicari rata-rata, simpangan baku dan varians ketiga sampel, kemudian dilakukan
uji normalitas, uji homogenitas ketiga kelas sampel (Debora, 2015).
a.
Uji Normalitas
Uji normalitas populasi bertujuan untuk melihat apakah populasi berdistribusi
normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Liliefors
(Sudjana dalam Debora, 2015).
b.
Uji Homogenitas Variansi
Uji homogenitas variansi ini dilakukan untuk melihat apakah
kedua kelompok
data mempunyai variansi yang homogen atau tidak.
Untuk menguji kesamaan variansi digunakan uji Barlett (Sudjana dalam Mardianti, 2011: 62).
c.
Uji kesamaan dua rata-rata populasi
Uji kesamaan dua rata-rata dilakukan untuk mengetahui apakah
populasi memiliki kesamaan rata-rata atau tidak. Uji ini dilakukan dengan uji
variansi satu arah (Mardianti, 2011: 63).
d.
Uji Hipotesis
Pengujian ini dilakukan untuk menentukan apakah hasil belajar
siswa pada kelas eksperimen melalui penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe numbered heads together pada
model pembelajaran guided discovery
lebih baik dari pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran guided discovery. Untuk pengujiannya
dilakukan dengan uji t yang dikemukakan oleh sudjana dalam Mardianti,
2011 :66).
F.
Prosedur Penelitian
Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan disusun prosedur
yang sistematis. Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi menjadi tiga
tahap, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian.
1) Tahap
Persiapan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan segala sesuatu
yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian.
2) Tahap
Pelaksanaan
Proses pembelajaran yang dilakukan dalam pelaksanaan
penelitian berbeda antar kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen
menggunakan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together pada model pembelajaran Guided Discovery serta
kelas kontrol menggunakan model pembelajaran Guided Discovery. Skenario pembelajaran kelas eksperimen dan
kelas kontrol seperti pada tabel ini.
Table 3.3 Skenario
Pembelajaran Pada Kelas Eksperimen I, II dan Kelas Kontrol
|
Kelas
Eksperimen
|
Kelas
Kontrol
|
|
1. Kegiatan pendahuan
a)
Guru mengabsen siswa dan
mempersiapkan kondisi kelas untuk belajar
b)
Guru menyampaikan apersepsi kepada siswa untuk membangkitkan
ingatan siswa tentang meteri terdahulu
c)
Guru memberikan motivasi
kepada siswa untuk menimbulkan minat belajar siswa
d)
Guru menyampaikan pokok
bahasan dan tujuan pelajaran
2. Kegiatan inti
Langkah-langkah
Penerapan
NHT pada Guided Discovery Learning
a.
Eksplorasi
1.
Guru membagi siswa
beberapa kelompok dengan anggota masing-masing kelompok sebanyak 4 orang. Setiap kelompok diberi
nomor siswa 1-4
2.
Guru memberikan suatu masalah (problem) kepada siswa dan menuliskan konsep dan prinsip yang
harus ditemukan siswa dalam pembelajaran serta guru menyiapkan alat dan bahan
yang di perlukan siswa dalam melaksanakan kegiatan
3.
Guru memberikan pengarahan kepada siswa sebelum memulai kegiatan
4.
Kemudian setiap siswa dalam kelompok melakukan penyelidikan berupa percobaan atau menemukan konsep dan
prinsip yang telah ditetapkan
5.
Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka yang
mengarah kepada kegiatan yang dilakukan siswa
6.
Guru mencatat hal-hal yang sulit atau
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil, terutama penyelidikan yang
mengalami kegagalan atau tidak berjalan sebagaimana harusnya
b.
Elaborasi
1.
Setelah masing-masing anggota kelompok selesai melakukan
penyelidikan yang berupa percobaan maka guru memanggil salah satu nomor
peserta didik dan peserta didik yang nomornya dipanggil melaporkan hasil
penyelidikan atau percobaan yang mereka lakukan
2.
Kemudian siswa dari kelompok yang lain menanggapi
3. Selanjutnya guru memanggil
nomor yang lain dan ditanggapi lagi oleh kelompok lain, begitu seterusnya
sampai selesai
c. konfirmasi
Guru membimbing siswa dalam kegiatan diskusi
dan memberikan pembenaran serta koreksi terhadap diskusi siswa
3. Kegiatan penutup
a.
Guru dan siswa menyimpulkan bersama materi pelajaran
b.
Guru memberikan tugas
kepada siswa atau pengayaan
c.
Guru menutup pelajaran
dengan membaca hamdalllah
|
1.
Kegiatan pendahuluan
a.
Guru mengabsen siswa dan
mempersiapkan kondisi kelas untuk belajar
b.
Guru menyampaikan apersepsi kepada siswa untuk membangkitkan
ingatan siswa tentang meteri terdahulu
c.
Guru memberikan motivasi
kepada siswa untuk menimbulkan minat belajar siswa
d.
Guru menyampaikan pokok
bahasan dan tujuan pelajaran
2.
Kegiatan inti
Langkah-langkah Guided
Discovery Learning
a.
Eksplorasi
1. Guru memberikan sebuah masalah kepada siswa
baik berupa pertanyaan maupun pernyataan serta menuliskan konsep dan prinsip
yang harus ditemukan siswa
2. Guru menyediakan alat ayng dibutuhkan siswa
untuk melakukan kegiatan dan menyampaikan pengarahan sebelum siswa
melaksanakan kegiatan
3. Kemudian siswa melakukan percobaan atau
menemukan konsep dan prinsip yang telah ditetapkan
4. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang
bersifat terbuka yang mengarahkan siswa pada kegiatan yang dilakukan
5. Guru mencatat hal-hal yang sulit atau
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil, terutama penyelidikan yang
mengalami kegagalan atau tidak berjalan sebagaimana harusnya
b.
Elaborasi
1.
Masing-masing siswa melaporkan hasil penyelidikan yang telah
dilakukan dan di tanggapi oleh siswa yang lain
c.
Konfirmasi
§ Guru memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik
§ Siswa melakukan refleksi untuk
memperoleh pengalaman belajar yang telah
dilakukan
v 3. Kegiatan penutup
a. Bersama-sama
dengan peserta didik atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran
b. Guru
memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran
c. Guru
Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya
d. Guru menutup pelajaran dengan membaca hamdalllah
|
3)
Tahap Penyelesaian
a.
Pada tahap ini guru
memberikan tes pada kedua kelas
sampel setelah pokok materi selesai diberikan. Tes yang diberikan berupa tes pilihan berganda.
b.
Mengolah
data dari kedua kelas sampel, baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol .
c.
Menarik
kesimpulan dari hasil yang diperoleh sesuai dengan teknis analisis yang
digunakan.
Daftar
Pustaka
Debora,
Vebbrya Alberti. 2015. Perbandingan Hasil Belajar Siswa
Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tip Co-op Co-op dengan Tipe Two Stay
Two Stray (TS-TS) pada Mata Pelajaran IPA (Fisika) DI MTsN Durian Tarung.
Skripsi. IAIN Imam Bonjol Padang.
Dharmawati,
Artika. 2013. Penerapan Pembelajaran
Numbered Heads Together Berbantuan Question And Answer Card Pada Materi
Hidrokarbon. Jurnal. Universitas Negeri Semarang.
Hamdani.
2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia.
Istarani.
2011. 58 Model Pembelajaran Inovatif.
Medan: Media Persada.
Jufri,
Wahab. 2012. Belajar dan Pembelajaran
Sains. Bandung: Pustaka Reka Cipta.
Lisfiani,
dkk. 2016. Penerapan Guided Discovery
Dalam Pembelajaran Materi Ajar Mengidentifikasi Kategori Multimedia. Jurnal.
Universitas Negeri Semarang
Mardianti,
Iif. 2011. Penerapan Strategi
Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Check Disertai Kuis dalam Pembelajaran Fisika
Di Kelas VIII MTsN Lubuk Buaya Padang. Skripsi. IAIN Imam Bonjol Padang.
Rahmawati,
dkk. 2014. Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Numbered Heads Together Berbasis Eksperimen Untuk Meningkatkan
Keterampilan Proses Sains Siswa SMP. Jurnal. Universitas Negeri Semarang
Widura,
Hakim Surya, dkk. 2015. Pengaruh Model
Guided Discovery Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X SMA
Negeri 8 Surakarta Tahun Pelajaran 2014/2015. Jurnal. Universitas Sebelas
Maret



Tidak ada komentar:
Posting Komentar