MAKALAH FISIKA MODERN
Tentang
“ATOM BERELEKTRON BANYAK”

Oleh:
1.
Rahman Al Hakim : 1314080216
2.
Cindri Kalista Putri :
1314080___
3.
Rahmi Aulia Azwal : 1314080___
4.
Ningsih Amelia : 1314080___
5.
Wahyuni :
1314080___
6.
Nela Yispita Sari : 1314080___
7.
Yunia Astarina : 1314080___
8.
Miftah Hurrahmi : 1314080___
Dosen
pembimbing
Sylvina Tebriani, S.Si, M.Si
JURUSAN TADRIS IPA (FISIKA) - A
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
1436H/2015M
KATA PENGANTAR
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$#
Puji syukur kita ucapkan kepada Allah
SWT yang telah memberikan hidayah dan
taufiknya, sehingga penulisan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
Shalawat beserta salam kepada putra terbaik di dunia yakninya
nabi Muhammad SAW, yang telah
membawa mukjizat dan banyak perubahan
terhadap umat manusia.
Adapun
tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk menjelaskan kepada kita
tentang Fisika Modern,
juga harapan saya dengan adanya makalah ini bisa membantu dalam mata kuliah Fisika Modern.
Dalam makalah ini saya ucap kan terima kasih kepada Ibuk Sylvina Tebriani, S.Si,
M.Si. Sebagai pebimbing saya dalam
pembuatan makalah ini.
Padang, Desember 2015
penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Walaupun kita
kenal ketepatan mekanika kuantum untuk menerangkan sifat tertentu dari atom
hidrogen, serta keindahan dan kesederhanaan yang mendasar dari teori itu,
tetapi teori itu tidak dapat memerikan atom itu atau atom lain secara lengkap
tanpa memasukkan spin-elektron dan prinsip eksklusi (larangan), yang berpautan
dengannya.
Dalam
pembahasan ini kita akan diperkenalkan peranan spin-elektron dalam gejala
atomik dan mencari penyebab mengapa prinsip eksklusi merupakan kunci untuk
mengerti struktur dan spektrum atom yang memiliki lebih dari satu elektron.
B.
Rumusan masalah
Dari uraian di
atas, adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana
peranan spin-elektron dalam gejala atomik?
2.
Mengapa
prinsip eksklusi merupakan kunci untuk mengerti struktur dan spektrum atom yang
memiliki lebih dari satu elektron?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui peranan spin-elektron dalam ejala atomik
2.
Mengetahui
kenapa prinsip eksklusi merupakan kunci untuk mengerti struktur dan spektrum
atom yang memiliki lebih dari satu elektron.
BAB II
ATOM BERELEKTRON BANYAK
A.
SPIN ELEKTRON
Pada tahun
1925, S.A.Goudsmitdan G.E.Uhlenbeck menyatakan bahwa sebuah elektron memiliki
momentum anguler intrinsik yang di sebut spin. Momen magnetik tambahan
diasosiasikan sebagai momentum anguler spin
intrinsik elektron S yang di hitung untuk defleksi berkas yang teramati dalam
eksperimen stern-Gerlach.
Serupa dengan
momentum anguler orbital, momentum anguler intrinsik elektron dan momen
magnetik yang diasosiasikannya akan mengalami kuantisasi dalam hal magnitudo
dan arahnya. Dua buah garis berjarak sama yang teramati dalam ekperimen
stern-gerlach menunjukkan bahwa momentum anguler intrinsik dapat mengasumsikan
hanya dua orientasi arah medan magnet yang berlaku. Pada bab sebelumnya
terlihat bahwa untuk gerak orbital yang ditentukan oleh bilangan kuantum I , komponen momen magnetik orbital di
sepanjang medan magnet dapat memiliki nilai-nilai diskret 2I +1. Serupa dengannya, jika bilangan kuantum untuk momen anguler
spin tersebut ditetapkan oleh s, kita mendapati bahwa hanya terdapat dua
kemungkinan orientasi, 2=2s+1, maka hasil ini akan memberikan nilai unik s=
. magnitudo momentum anguler spin S
selanjutnya adalah:
Komponen
di sepanjang arah z adalah
Kedua orientasi
S dikenal sebagai “spin naik”(
)dan “spin turun”
) (walaupun spin tersebut tidak pernah dapat
mengarah ke z positif ata negatif).
Momen magnetik
intrinsik elektron
dan
momentum anguler intrinsik S sebanding satu sama lain, dan hubungan keduanya
dapat di tulis sebagai
Besaran tanpa
dimensi
disebut rasio giromagnetik untuk elektron
,nilainya 2,002(
dalam
soal-soal).
Nilai unik
untuk bilangan kuantum spin adalah suatu
karakteristik dasar elektron yang mengikuti karakteristik muatan dan massa
uniknya. Sifat-sifat spin elektron di jelaskan pertama kali oleh dirac pada
sekitar tahun 1928 melalui penggabungan sifat-sifat mekanika gelombang dan
teori relativitas.
Teori atom yang
telah di kembangkan dalam bab yang lalu
tidak dapat menerangkan sejumlah hasil pengamatan eksperimental yang terkenal.
Salah satu kenyataan ialah bahwa banyak garis spektral sebenarnya terdiri dari dua garis terpisahyang
letaknya sangat berdekatan. Satu contoh dari struktur halus ini ialah garis
pertama deret balmer hidrogen yang timbul dari transisi antara tingkat n=3 dan
n=2 dari atom hidrogen. Dalam hal ini ramalan teoritis ialah garis tunggal yang
mempunyai panjang-gelombang 656,3 nm sedangkan dalam kenyataannya terdapat dua
garis berjarak 0,14 nm-efek yang kecil, tetapi jelas menunjukan kegagalan teori
itu.
Kegagalan lain
dari teori mekanika kuantum sederhana untuk atom terjadi efek zeeman. Dapat dilihat bahwa spektral sebuah atom
dalam medan magnetik maisng-masing harus terpecah menjadi tiga komponen. Efek
zeeman normal benar-benar teramati dalam spektrum beberapa unsur dalam lingkungan
tertentu,tetapi sering kali tidak teramati, melainkan teramati empat, enam atau
lebih komponen bisa muncul dan walaupun tiga komponen yang muncul jarak
antaranya tidak cocok dengan persamaan :
Efek zeeman normal
Dalam usaha
untuk menerangkan struktur halus garis
spektral dan efek zeeman anomalous,S.A.
Goudsmit dan
G.E. Uhlenbeck dalam tahun 1925 mengusulkan bahwa elektron memiliki momentum
sudut intrinsik yang bebas dari momentum sudut orbitalnya dan berkaitan dengan
momentum sudut itu terdapat momentum magnetik.
Apa yang ada
dalam pikiran meraka ialah suatu gambaran klasik dari elektron sebagai bola
yang berpusing pada sumbunya. Pusingan ini berkaitan dengan momentum sudut, dan
karena lektron bermuatan negatif, elektron bermomen magnetik
yang arahnya berlawanan dengan arah vektor
momentum sudut
.
Pengertian Spin
elektron adalah struktur halus pada garis spektral ini terbukti berhasil untuk
menerangkan bukan saja struktur halus dari efek zeeman anomali tetapi juga
berbagai macam efek atomik lainnya. Gambaran Elektron sebagai bola yang
berpusing terbuka pada berbagai keberatan. Salah satu keberatan itu ialah
pengamatan hamburan elektron oleh elektron lainnya pada energi tinggi
menunjukkan bahwa diameter elektro harus kurang dari
m, dan sangat mungkin merupakan
partikel-titik. Supaya elektron memiliki momentun sudut yang berpautan dengan
spin-elektron, benda sekecil itu harus berpusing dengan kecepatan ekuatorial(khatulistiwa) beberapa kali lebih
besar dari kecepatan cahaya.
a.
Teori dirac elektron
Dalam tahun 1929 sifat pokok spin elektron dikokohkan oleh
pengembangan mekanika kuantum paul dirac. Dirac memakai persamaan relativistik 
Dirac berpendapat bahwa sebuah partikel yang mempunyai massa dan
muatan seperti elektron harus memiliki momentum
sudut intrinsik dan momen magnetik.
b.
Momentum
sudut spin
Bilangan kuantum s
dipakai untuk memberikan momentum sudut spin elektron. Harga s yang di perbolehkan ialah s=
persyaratan ini datang dari teori dirac. Dan
juga diperoleh secara empiris dari data spectral. Besar S dari momentum sudut yang di sebabkan oleh spin elektron
dinyatakan dalam bilangan kuantum spin S
dengan rumus :
Momentum sudut spin 
Yang bentuknya sama dengan rumus untuk mendapatkan besar momentum
sudut orbital L dari bilangan kuantum orbital L.
Kuantisasi ruang spin elektron di perikan oleh bilangan kuantum
magnetik spin
.
Seperti vektor momentum sudut orbital boleh memiliki orientasi 2l+1 dalam medan magnetik dari +1 hingga
-1, vektor momentum sudut spin dapat 2s+1=2 orientasi yang di beri spesifikasi
oleh 
komponen
momentum sudut spin sebuah elektron sepanjang
arah medan magnetik dalam arah z ditentukan oleh bilangan kuantum magnetik
spin, sehingga :
komponen z momentum sudut spin 
c.
Momen
magnetik spin
Rasio giromagnetik yang merupakan karakteristik spin elektron
hampir 2x karakteristik gerak orbital elektron. Jadi, dengan mengambil rasio
ini sama dengan 2, momen magnetik spin
sebuah
elektron berkaitan dengan momentum sudut spin S melalui:
Komponen z momen magnetik spin 
d.
Eksperimen
sterm gerlach
Kuantisasi ruang ditunjukkan secara eksplisit oleh 0. Sterm dan
W.gerlach tahun 1921. Mereka mengarahkan seberkas atom perak netral dari suatu
tungku(oven) melewati sekumpulan celah kolimator masuk kedalam medan magnetik
tak homogen, sebelum pelat potografik mencatat konfigurasi berkas setelah
melewati medan.
Dalam keadaan normal,seluruh momen magnetikatom perak ditimbulkan
oleh spin satu elektronnya saja. Dalam medan magnetik homogen, di kutub seperti
itu hanya akan menagalami torka yang cenderung untuk menjajarkannya dengan
medan. Namun, dalam medan tak homogen, masing-masing kutub dari dwikutub itu
mengalami gaya dengan besar yang berbeda, sehingga gaya resultan pada dwikutub
berubah terhadap orientasi dalam ruang relatif terhadap medan. Secar klasik
semua orientasi harus ada dalam berkas atom, sehingga menghasilkan hanya suatu
jejak lebar dalam pelat fotografik alih-alih garis tipis yang dibentuk jika
medan magnetikya tidak ada. Namun, sterm dan gerlach menemukan bahwa berkas
semula terpecah menjadi dua bagian yang jelas bersesuaian dengan orientasi spin
yang berlawanan dalam medan magnetik seperti yang di izinkan oleh kuantisasi
ruang.
B.
Kopling Spin-Orbit
Momentum sudut terkait secara magnetik
Kopling (gandengan) spin-orbit ini dapat dipahami dengan memakai
model klasik secara langsung. Sebuah elektron yang berputar mengelilingi sebuah
inti mendapatkan dirinya berada dalam medan magnetik, karena dalam kerangka
acuan dirinya, inti itu mengelilinginya. Medan magnetik ini beraksi terhadap
momen magnetik spin elektron itu sehingga menghasilkan semacam efek zeeman
internal.
Energi magnetik Vm dari dua kutub bermomen
pada suatu medan magnetik kerapatan fluks
adalah B yang umumnya.
Dimana :
Kuantitas
= 
Didapatkan kopling spin orbit
![]() |
|||||
|
|
|
|
|
|
1.
Elektron
mengelilingi inti atom, dilihat dari kerangka acuan inti (a)
2.
Dari
kerangka acuan elektron, inti mengelilingi elektron (b)
3.
Medan
magnet yang dihasilkan inti atom beraksi terhadap momen magnet spin elektron
dengan energi magnetik U
4.

5.
Jadi
energi bergesar kebawah dan keatas sebesar energi tersebut diatas
6.
Mirip
dengan zeeman tetapi dengan B yang dihasilkan oleh gerak inti
Bilangan kuantum spin orbit
Peranan s = ½ merupakan satu-satunya pilihan yang sesuai dengan
pengamatan penggandaan struktur halus. Kenyataan bahwa keadaan tunggal itu
menjadi keadaan ganda menyebabkan kemungkinan 2s + 1 orientasi vektor momentum
sudut spin S menjadi 2.
Jadi : 
C.
Prinsip Ekslusi
Unsur yang bilangan berdekatan dapat mempunyai prilaku kimiawi
sangat berbeda
Salah
satu contoh ialah perbedaan besar prilkau kimiawi yang ditunjukkan oleh unsur
tertentu yang struktur atomiknya hanya berbeda satu elektron. Misalnya, unsur
bernomor atomik 9, 10, dan 11, berturut
adalah gas halogen fluorine, gas mulia neon dan gas alkali natrium. Kaena
struktur elektron sebuah atom mengendalikan interaksi dengan atom lain, sulit
bagi kita untuk mengerti mengapa sifat kimiawi unsur harus berubah secara
mendadak dengan berubahnya bilngan atomik bila seluruh elektron atom itu ada
dalam keadaan kuantum yang sama.
Prinsip Ekslusi Pauli
Pada
tahun 1925 Wolfgang Pauli menemukan prinsip pokok yang mengatur konfigurasi
elektronik atom. Menurut prinsip pauli menyatakan bahwa dalam suatu atom yang
sama tidak mungkin ada dua elektron dengan keempat bilangan kuatum (n, l, m, s
) yang sama. Orbital yang sama akan mempunyai bilangan kuantum n, l, m, yang
sama, tetapi yang membedakan adalah bilngan kuantum spin (s). Setiap orbital
hanya dapat berisi dua elektron dengan spin yang antiparalel (berlawanan arah).
Jadi, satu orbital dapat ditempati maksimum oleh dua elektron, karena jika
elektron ketiga dimasukkan maka akan memilki spin yang sama dengan salah satu
elektron sebelumnya.
Contoh : pada orbital 1s, akan
ditempati oleh oleh dua elektron, yaitu :
1.
Elektron
pertama : n = 1, l = 0, m = 0, s =
+1/2
2.
Elektron
kedua : n = 1, l =
0, m = 0, s = -1/2
Dapat
dilihat, elektron pertama dan elektron kedua mempunyai harga bilangan kuantum
n, l, dan m yang sama, tetapi bilngan kuantum s ny berbeda.
Elektron
ketiga tidak dapat menempati orbital 1s lagi, sebab jika elektron ketiga
menempati orbital 1s, maka harga bilangan kuantum n, l, m, dan s elektron
ketiga akan sama dengan elektron pertama atau elektron kedua.
Dengan
menggunakan prinsip ekslusi pauli dan ketentuan bilangan kuantum m dan l yang
diperbolehkan untuk setiap harga bilangan kuantum n dapat disusun berbagai
kombinasi 4 bilangan kuantum pada setiap kuantum grup sebagai berikut :
Bilangan
kuantum utama (n)
|
Orbital
|
Bilangan
kuantum
|
Notasi orbital
|
Jumlah
elektron
|
||
l
|
M
|
s
|
||||
n = 1
(kulit k)
|
S
|
0
|
0
|
+1/2
|
1s
|
2
|
0
|
0
|
-1/2
|
||||
n = 2
(kulit L)
|
S
|
0
|
0
|
+1/2
|
2s
|
2
|
0
|
0
|
-1/2
|
||||
p
|
1
|
-1
|
+1/2
|
2P
|
6
|
|
p
|
1
|
-1
|
-1/2
|
|||
p
|
1
|
0
|
+1/2
|
|||
p
|
1
|
0
|
-1/2
|
|||
p
|
1
|
+1
|
+1/2
|
|||
p
|
1
|
+1
|
-1/2
|
|||
D. Sistem Periodik
Unsur
Bila unsur-unsur
didaftar menurut bilangan atomiknya, unsur yang memiliki sifat kimiawi dan
sifat fisis yang serupa muncul pada selang yang teratur. Pengamatan empiris ini
dikenal sebagai hokum periodik (hukum berkala) yang mula-mula dirumuskan oleh
Dmitri Mendeleev sekitar satu abad yang lalu. Pengaturan secara tabel dari
unsur-unsur itu yang menunjukkan sifat yang muncul periodic ini disebut tabel
periodik.[1]
Sistem periodik unsur –unsur disusun berdasarkan kenaikan
nomor atomnya atau berdasarkan urutan jumlah elektron. Ternyata, sistem
periodik ini dapat menjelaskan sifat – sifat unsur pada periode dan golongan
tertentu dan menjelaskan alasan unsur – unsur dalam satu periode memiliki sifat
– sifat yang berbeda antara golongan yang satu dengan golongan yang lainnya.
Sifat – sifat dalam sistem periodik dapat diketahui melalui konfigurasi elektronnya
sehingga diketahui jumlah elektron sekitarnya.[2]
1. Perkembangan Periodik Unsur
a.
Berdasarkan Sifat Logam dan Non Logam
Unsur-unsur yang ada di alam dikelompokkan ke dalam 2
kelompok yaitu logam dan non logam.Pengelompokan ini merupakan metode paling
sederhana , dilakukan dengan cara mengamati ciri-ciri fisiknya.
b.
Berdasarkan Hukum Triade Dobereiner
Tahun 1817 Dobereiner menemukan adanya beberapa kelompok
tiga unsur yang memiliki kemiripan sifat, yang ada hubungannya dengan massa
atom. Kelompok ini dinamakan triade. Berdasarkan eksperimennya disimpulkan
bahwa berat atom unsur kedua hampir sama atau mendekati berat rata-rata dari
unsur sebelum dan
sesudahnya.
sesudahnya.
c.
Hukum Oktaf dari Newland
Unsur-unsur dikelompokkan berdasarkan kenaikan massa atom
relatifnya (Ar).
Unsur ke-8 memiliki sifat kimia mirip dengan unsur pertama; unsur ke-9 memiliki sifat yang mirip dengan unsur ke-2 dst. Sifat-sifat unsur yang ditemukan berkala atau periodik setelah 8 unsur disebut Hukum Oktaf.Unsur H sifatnya sama dengan unsur F,unsur Li sifatnya sama dengan unsur Na dan seterusnya
Unsur ke-8 memiliki sifat kimia mirip dengan unsur pertama; unsur ke-9 memiliki sifat yang mirip dengan unsur ke-2 dst. Sifat-sifat unsur yang ditemukan berkala atau periodik setelah 8 unsur disebut Hukum Oktaf.Unsur H sifatnya sama dengan unsur F,unsur Li sifatnya sama dengan unsur Na dan seterusnya
d.
Berdasarkan
Periodik Mendeleev
Lothar Meyer lebih mengutamakan sifat-sifat kimia unsur
sedangkan Mendeleev lebih
mengutamakan kenaikan massa atom.
mengutamakan kenaikan massa atom.
Menurut Mendeleev : sifat-sifat unsur adalah fungsi periodik
dari massa atom
relatifnya. Artinya : jika unsur-unsur disusun menurut kenaikan massa atom relatifnya, maka
Sifat tertentu akan berulang secara periodik.
relatifnya. Artinya : jika unsur-unsur disusun menurut kenaikan massa atom relatifnya, maka
Sifat tertentu akan berulang secara periodik.
2.
Sistem Periodik Modern (Sistem Periodik Panjang)
Dikemukakan oleh Henry G Moseley, yang berpendapat bahwa
sifat-sifat fisis dan kimia unsur merupakan fungsi periodik dari nomor atomnya
.Artinya : sifat dasar suatu unsur ditentukan oleh nomor atomnya bukan oleh
massa atom relatifnya (Ar).
Pengelompokkan ini dikenal dengan sistem periodik panjang yang diketahui dengan nama Sistem Periodik Modern. Sistem ini terdiri dari 2 hal yaitu golongan (lajur vertikal) dan periode(lajur horisontal)
Pengelompokkan ini dikenal dengan sistem periodik panjang yang diketahui dengan nama Sistem Periodik Modern. Sistem ini terdiri dari 2 hal yaitu golongan (lajur vertikal) dan periode(lajur horisontal)
a. Golongan dan
Periode Unsur-Unsur dalam Tabel Periodik
1. Golongan
Golongan adalah lajur tegak pada Tabel Peiodik Unsur. Unsur-unsur yang ada dalam satu lajur tegak adalah unsur-unsur segolongan, terdapat 8 golongan utama dan 8 golongan transisi.
Golongan utama tersebut adalah:
1) Golongan I A (alkali) terdiri dari unsur-unsur H, Li, Na, K, Rb,Cs,Fr
2) Golongan II A (alkali tanah) terdiri dari unsur-unsur Be, Mg, K,Sr,Ba,Ra
3) Golongan III A ( aluminum) terdiri dari unsur-unsur B,Al,Ga,In,Tl
4) Golongan IV A (karbon) terdiri dariunsur-unsur C,Si,Ge,Sn,Pb
5) Golongan V A (nitrogen) terdiri dari unsur-unsur N,P,As,Sb,Bi
6) Golongan VI A (oksigen) terdiri dari unsur-unsur O,S,Se,Te,Po
7) Golongan VII A (halogen) terdiri dari unsur-unsur F,Cl,Br,I,At
8) Golongan VIII A (gas mulia) terdiri dari unsur-unsur He,Ne,Ar,Kr,Xe,Rn
Golongan adalah lajur tegak pada Tabel Peiodik Unsur. Unsur-unsur yang ada dalam satu lajur tegak adalah unsur-unsur segolongan, terdapat 8 golongan utama dan 8 golongan transisi.
Golongan utama tersebut adalah:
1) Golongan I A (alkali) terdiri dari unsur-unsur H, Li, Na, K, Rb,Cs,Fr
2) Golongan II A (alkali tanah) terdiri dari unsur-unsur Be, Mg, K,Sr,Ba,Ra
3) Golongan III A ( aluminum) terdiri dari unsur-unsur B,Al,Ga,In,Tl
4) Golongan IV A (karbon) terdiri dariunsur-unsur C,Si,Ge,Sn,Pb
5) Golongan V A (nitrogen) terdiri dari unsur-unsur N,P,As,Sb,Bi
6) Golongan VI A (oksigen) terdiri dari unsur-unsur O,S,Se,Te,Po
7) Golongan VII A (halogen) terdiri dari unsur-unsur F,Cl,Br,I,At
8) Golongan VIII A (gas mulia) terdiri dari unsur-unsur He,Ne,Ar,Kr,Xe,Rn
2. Periode
Perioda adalah lajur horisontal dalam sistem periodik modern
terdiri dari 7 periode
1) Periode 1 (periode sangat pendek) berisi 2 unsur
2) Periode 2 (periode pendek) berisi 8 unsur
3) Periode 3 (periode pendek) berisi 8 unsur
4) Periode 4(periode panjang) berisi 18 unsur
5) Periode 5 (periode panjang) berisi 18 unsur
6) Periode 6 (periode sangat panjang ) berisi 32 unsur
7) Periode 7 (periode sangat panjang) berisi 28 unsur,belum lengkap karena maksimum 32 unsur
1) Periode 1 (periode sangat pendek) berisi 2 unsur
2) Periode 2 (periode pendek) berisi 8 unsur
3) Periode 3 (periode pendek) berisi 8 unsur
4) Periode 4(periode panjang) berisi 18 unsur
5) Periode 5 (periode panjang) berisi 18 unsur
6) Periode 6 (periode sangat panjang ) berisi 32 unsur
7) Periode 7 (periode sangat panjang) berisi 28 unsur,belum lengkap karena maksimum 32 unsur
Sistem
periodik modern (SPU) disusun berdasarkan kenaikan nomor atom (lajur horizontal
atau periode) dan kemiripan sifat (lajur vertikal atau golongan).
Sistem periodik modern terdiri atas 7 periode dan 8 golongan. Berdasarkan golongannya, unsur-unsur SPU dibedakan menjadi:
Sistem periodik modern terdiri atas 7 periode dan 8 golongan. Berdasarkan golongannya, unsur-unsur SPU dibedakan menjadi:
a.
Golongan
utama (Golongan A)
b.
Golongan
transisi (Golongan B)
Berdasarkan
jenis orbital yang ditempati oleh elektron terakhir, unsur-unsur dalam sistem
periodik dibagi atas blok s, blok p, blok d, dan blok f.
a.
Blok s:
golongan I A dan II A. Blok s tergolong logam aktif, kecuali H (nonlogam) dan
He (gas mulia).
b.
Blok p:
golongan III A sampai dengan VIII A. Blok p disebut juga unsur wakil karena
terdapat semua jenis unsur (logam, nonlogam, dan metaloid).
c.
Blok d:
golongan III B sampai II B. Unsur blok d disebut juga unsur transisi, semuanya
tergolong logam.
1.
Blok f:
unsur blok f ini disebut juga unsur transisi dalam, semuanya terletak pada
golongan IIIB, periode 6 dan 7.
1. Periode 6 dikenal sebagai deret lantanida (4f).
2. Periode 7 dikenal sebagai deret aktinida (5f)[3]
1. Periode 6 dikenal sebagai deret lantanida (4f).
2. Periode 7 dikenal sebagai deret aktinida (5f)[3]
E. Konfigurasi
Elektron
Konfigurasi elektron adalah cara penyusunan dan pengaturan
elektron dalam suatu atom. Aturan penulisan konfigurasi elektron berdasarkan
hal – hal berikut.
1.
Aturan Aufbau
Penempatan elektron dimulai dari
subkulit yang memilki tingkat energi yang paling rendah sampai penuh. Setelah
itu, dilanjutkan dengan subkulit yang tingkat energinya lebih tinggi dan
seterusnya sesuai dengan jumlah elektron yang ada. Elektron mengisi orbital
dari tingkat energi yang paling rendah sampai yang paling tinggi.
Contoh:Atom
K= 19, konfigurasi elektronnya 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1
1s
2s
2p
3s
3p 3d
4s
4p 4d 4f
5s
5p 5d 5f
6s
6p 6d
7s
2.
Aturan Hund
Penempatan
elektron pada orbital – orbital s,p,d,f, yang memiliki tingkat energi yang sama
(pada subkulit yang sama), setiap subkulit diisi dengan satu elektron terlebih
dahulu dengan arah spin sama baru kemudian diisi dengan elektron berikutnya
dengan arah yang berlawanan.
Contoh :
tidak boleh
|
Dalam
orbital yang setingkat, elektron-elektron tidak boleh berpasangan sebelum
seluruh orbital setingkat terisi oleh sebuah elektron.
3.
Aturan
Asas Larangan Pauli
Pada 1925,
Wolfgang Pauli mengemukakan aturan pengisian elektron pada atom, yakni elektron
– elektron cenderung akan menempati energi terendah yang masih mungkin dalam
suatu orbital. Oleh karena jumlah elektron maksimum yang dapat mengisi subkulit
tertentu terbatas. Pauli mengemukakan aturan yang dikenal dengan asas larangan
Pauli. Dalam sabuah atom tidak boleh ada 2 elektron yang menempati keadaan yang
sama, artinya elektron tidak boleh mempunyai keempat bilangan kunatum yang sama
(n, l, mp dan ms).[4]
Elektron-elektron yang memiliki
harga 1 yang sama dalam satu kulit menempati sub-kulit yang sama, karena
ketergantungan energi electron pada ml
dan ms sangat kecil. Maing-masing subkulit
diidentifikasi dengan bilangan kuantum utama n diikuti dengan huruf yang
bersesuaian dengan bilangan kuantum orbital l. Sebuah superskrip setelah huruf itu
menunjukkan banyaknya elektron dalam sub kulit itu. Misalnya, konfigurasi
elektron natrium ditulis sebagai berikut:
1s22s22p63s1
Ini
berarti subkulit ls (n=1, l=0) dan 2s (n=2, l=0) masing-masing berisi dua
elektron, subkulit 2p (n=2, l=1) berisi enam elektron, dan subkulit 3s (n=3,
l=0) berisi satu elektron.
Prinsip ekslusi membatasi banyaknya
elektron yang dapat menempati suatu subkulit tertentu. Suatu subkulit
bercirikan bilangan kuantum total n dan bilangan kuantum orbital l, dengan l =
0, 1, 2, . . . , (n - 1). Terdapat 2l + 1 harga yang berbeda dari bilangan
kuantum magnetik ml untuk setiap l, karena ml = 0, ±1,
±2, . . . ,±l, dan dua bilangan kuantum spin ms (+½ dan -½) untuk
setiap ml. Jadi masing-masing subkulit dapat berisi maksimum 2(2l + l) elektron.
Jumlah
elektron total sebuah subkulit dapat berisi sama dengan jumlah elektron dalam
semua subkulit tertutup. Disini,

Kuantitas
dalam tanda kurung berisi n suku yang harga rata-ratanya ialah
Jadi
jumlah maksimum elektron dalam kulit ke n ialah
Nmaks
= 2 ×
2
Jadi kulit tertutup n = 1 mengandung
2 elektron; kulit tertutup n = 2 mengandung 8 elektron; kulit tertutup n = 3
mengandung 18 elekton; dan seterusnya.[5]
F.
Konfigurasi electron
Berbagai dalam atom kompleks tentu
saja satu dengan yang lainnya berinteraksi, banyak mengenai strutur atomik
dapat dimengerti dengan memandang masing-masing electron seakan-akan berada
dalam saatu medan gaya rata-rata yang konstan. untuk electron tertentu medan
ini secara aproksimasi sama dengan medan listrik inti bermuatan Ze dikurangi
oleh efek perisai electron lainnya yang dekat dengan inti itu. Elektron yang
memiliki bilangan kuantum utama n yang sama biasanya (walaupun tidak selalu)
kira-kira berada pada jarak rata-rata yang sama terhadap inti. Secara
konvensional kita katakana bahwa electron seperti itu menempati kulit atomic
yang sama. Kulit ini diber lambing dengan huruf besar menurut skema sebagai
berikut:
Kulit atomic n= 1 2
3 4 5 . . .
K L
M N O . . .
Energy electron pada kulit tertentu
masih bergantung juga pada bilangan kuantum orbital Ip walaupun kebergantungan
ini tidak begitu besar seperti terhadap n dalam atom kompleks derajat muatan
intinya terperisai dari suatu electron oleh kulit yang berada diantaranya
berubah dengan distribusi kerapatan peluang. Electron dengan/kecil lebih besar
peluangnya untuk didapatkan dekat ini (disitu electron tidak banyak kena efek
perisai dari electron lainnya) dari pada electron dengan I besar sehingga
menghasilkan energy total yang lebih rendah (jadi energy ikatnya lebih besar)
electron dalam masing-masing kulit bertambah energinya jika I bertambah besar.
Electron electron yang memiliki harga I yang sama dalam satu kulit dikatakan
menempati sub kulit yang sama, karena ketergantungan energy electron pada m1
dan m2 sangat kecil. Keberadaan electron yang menempati berbagai sub ulit dalam
sebuah atom biasanya dinyatakan dengan notasi yang diperkenalkan dalam sebuah
atom dalam bab yang lalu untuk berbagai keadaan kuantum atom hydrogen.
Masing-masing subkulit diidentikasi
dengan bilangan kuantum utama n diikuti dengan huruf yang bersesuaian dengan
bilangan kuantum orbital L sebuah superskrip setelah huruf itu menunjukkan
banyaknya electron dalam subkulit itu misalnya, konfigurasi electron natrium
ditulis sbb:
1
2
2
3
Ini berarti subulit 1s(n=1, l=0)
masing-masing berisi dua electron, subkulit 2p (n=2, l=1) berisi enam electron,
dan subkulit 3s (n=3, l=0) berisi satu electron. Prinsip eksklusi membatasi
banyaknya electron ysng dapat menempati suatu subkulit tertentu. Suatu subulit
bercirikan bilangan kuantum total n dan bilangan kuantum orbital l, dengan
l = 0, 1, 2, . . . (n-1)
terdapat 2l+1 harga yang berbeda
dari bilangan kuantum magnetic m1 untuk setiap l karena m1= 0,
2 .
. . .
l
dan dua harga bilangan kuantum spin
m1 (
dan -
)
untuk setiap m1. Jadi masing-masing subkulit dapat berisi maksimum 2(2l+1)
electron.
Jumlah electron total sebuah kulit
dapat berisi sama dengan jumlah electron dalam semua subkulit tertutup.
Disini,
=
2l1+3+5+. . . +2n-1l
Kuantitas dalam tanda kurung berisi
n suku yang harga rata-ratanya ialah
Jadi jumlah maksimum electron dalam
kulit ke n ialah
Nmaks = 2x
l1+
(2n-1)l= 2
Jadi kulit tertutup n=1 mengandung 2
elektron; kulit tertutup n=2 mengandung 8 elektron; kulit tertutup n=3
mengandung 18 elektron; dan seterusnya.
G.
Penjelasan table periodik
Bagaimana
struktur electron dalam atom menentukan sifat kimiawi
Pengertian
kulit electron dan subkulit electron dapat tertampung dengan baik dalam pola
table periodic yang mencerminkan struktur atomic unsure. Kulit atomok atau
subkulit atomic yang berisi penuh jatah elektronnya disebut tertutup sebuah
subkulit es(l=0) yang tertutup mengandung dua electron, subkulit p(l=1) yang
tertutup mengandung sepuluh electron, dan sebagainya. Momentum sudut orbital
total dan spin total dalam subkulit tertutup adalah nol,dan distribusi muatan
efektifnya mempunyai simetri sempurna. Electron dalam kulit tertutup semuanya
terikat kuat, karena muatan inti yang positif lebih besar dibandingkan dengan
muatan negative elektronperisai yang didalam. Karena sebuah atom yang hanya
mengandung kulit tertutup tidak memililki momen dwi kutup, atom itu tidak
menarik electron lain dan electron-elektronnyanya tidak mudah terlepas. Sebuah
atom dari setiap logam alkali dalam grup 1 mempunyai electron tunggal pada
kulit terluarnya. Electron seperti itu
letaknya relative jauh dari inti dan terperisai oleh electron dalam sehingga
muatan int efektif yang dilihatnya hanya +e alih-alih ze+. Jadi hanya kerja relative
kecil yang diperlukan untuk melepaskan electron dari atom seperti itu, sehingga
logam alkali mudah menjadi ion positif dan bervalensi satu. Gambar 7.11
menunjukkan bagaimana energy ionisasi unsure-unsur berubah terhadap nomor
atomic. Lebih besar atom itu, lebih jauh
electron terluarnya dari inti dan lebih lemah gaya yang mengikatnya dalam atom
itu hal ini menerangkan mengapa energy ionisasi pada umumnya menurun jika kita
turun kebagian bawah table periodic. Bertambahnya energy ionisasi kiri kekanan
sepanjang setiap periode dapat diterangkan karena bertambahnya muatan inti,
sedangkan jumlah electron perisai dalmnya tetap konstan. Dalam periode 2,
misalnya, electron luar dalam atom litium diikat oleh muatan efektif +e,
sedangkan masing-masing electron luar pada brilium, boron karbon dan sebagainya
diikat ole muatan efektif +2e,+3e,+4em dan sebagainya. Pada ekstrim yang lain
dari atom logam alkali yang cendrung untuk kehilangan electron terluarnya; atom
halogen yang mempunyai inti terperisai tak sempurna cendrung untuk melengkapi
subkulitnya dengan mengambil satu electron tambahan. Jadi atom halogen mudah
menjadi atom ion negative dan bervalensi -1. Jalan pikiran seperti ini
menerangkan keserupaan sifat anggota gorup dalam table periodic. Walaupun secara ketat sebuah atom dari satu
jenis tertentu mempunyai ukuran tertentu, dari pandangan praktis ukuran hamper
tertentu dapat dipakai untuk atom itu berdasarkan jar kantar atomic yang
teramati dalam kisi Kristal yang tetap(kloselypacked). Gambar 7.12 menunjukkan
bagaimana jari-jari yang didpatkan berubah terhadap nomor atomic perioditasnya
disini jelas terlihat seperti dalam kasus energy ionisasi, dan sesungguhnya memang asalnya sama yaitu
perisaian sebagian dari atom electron dalam pada muatan inti; lebih besar
perisainya, lebih rendah energy ikat electron terluar dan lebih jauh letak
rata-ratanya dari inti itu. Kisaran yang relative kecil dari jari-jari atomic
tidaklah mengejutkan dipandang dari kurva energy –ikat gambar 7.9; disini kiaa
lihat dibandingkan dengan kenaikan yang cepat dari energy ikat electron 1syang
tak terperisai terhadap z, energy ikat electron terikat electron terluar (yang
distribusi kerapatan –peluangnya menentukan ukuran atomiknya) kisarannya hanya
sedikit saja. atom yang terberat; berelektron lebuh dari 90, memiliki jari-jari
3 kali atom hydrogen, bahkan atom cassium yang ukurannya terbesar, berjari-jari
hanya 4,4 kali atom hydrogen. Asal mula unsure transisi jelas terlihat pada
energy ikat yang lebih kuat untuk electron s disbanding dengan untuk electron d
atau f dari sebuah atom kompleks yang dibahas dalam pasal terdahulu (lihat
ggambar 7.9) unsure pertama yang menunjukkan sifat ini ialah kalium yang
electron terluarnya terdapat pada sub keadaan 4s sebagai ganti 3d. perbedaan
energy ikat antara electron 3d dan 3s tidak begitu besar, seperti terlihat pada
konfigurasi kromium dan tembaga. Pada kedua unsure itu tambahan electron 3d
terdapat sehingga timbul kekosongan dalam subkulit 4s.
Urutan
bagaimana subkulit electron cendrung untuk diisi, bersama dengan kandungan
maksimum masing-masing subkulit ialah sebagai berikut:
1
, 2
, 2
, 3
, 3
, 4
,
, 5
,
4
, 5
, 6
, 4
,
, 6
, 7
, 6
, 5
Gambar 7.13 mencerminkan urutan ini.
Ketakteraturan dalam energy ikat electron
atomic ini jugamerupakan penyebab dari ketiadaan kulit terluar yang penuh pada
gas mulia yang berat . helium (Z=2) dan neon (Z=10) mengandung berurutan kulit
K dan L tertutup (Z=18) hanya mengandung 8 elektron M bersesuaian dengan
subkulit 3s dan 3p tertutup sebab subkulit 3d yang lain tidak berisi dengan
electron 4s yang sederhana. Mengikat energy yang lebih tinggi electron 3d dan
telah dikatakan bahwa subkulit 4s terisi lebih dahulu dalam kalium dan kalsium.
Pada umumnya, electron dalam atom tetap tak berpasangan jadi spinnya sejajar
bila memungkinkan. Prinsip ini disebut aturan hund. Feromagnetisme besi,
kobalt, dan nikel merupakan akibat dari aturan hund. Subkulit 3d nya hanya
terisi sebagian, dan electron dalam subkulit ini tidak berpasangan sehingga
moent magnetic spinnya tidak saling meniadakan. Aturan Hund timbul karena
electron atomic saling tolak menolak. Karena tolakan ini , lebih saling
berelektron dalam subkulit yang sama dengan spin yang sama pula harus memiliki
harga m1 yang berbeda sehingga diberikan oleh fungsi gelombang yang distribusi
ruangnya berbeda pula.



H.
MOMENTUM SUDUT TOTAL
1.
Momentum
sudut atomik total J terkuantisasi
Setiap elektron dalam sebuah atom
memiliki momentum sudut orbital L tertentu dan memiliki momentum sudut spin S
tertentu, keduanya memberi sumbangan pada momentum sudut total J dari atom
tersebut. Seperti setiap momentum sudut, J harus terkuantisasi, dengan besar
Momentun sudut atomik total 
Dan komponen
dalam arah z diberikan oleh
Komponen z dari momentum sudut atomik total
Dengan J
dan
merupakan bilangan kuatum yang mengatur J dan
.
Besar L dari momentum sudut orbital
L dari sebuah elektrom atomik ditentukan oleh bilangan kuantum orbital
menurut rumus
Sedangkan komponen
dan L sepanjang sumbu z ditentukan oleh
bilangan kuantum magnetik
menurut rumus
Demikian juga besar S dari momentum
sudut spin S ditentukan oleh bilangan kuantum spin s (yang harganya
saja) menurut rumus
Sedangkan komponen
dari S sepanjang sumbu z ditentukan oleh
bilangan kuantum spin magnetik
menurut rumus
2.
Penjumlahan
L dan S menghasilkan J
Karena L dan S merupakan vektor,
keduanya harus dijumlahkan secara vektor sehingga menghasilkan momentum sudut
total J:
Biasanya dipakai lambang j dan
untuk bilagan kuantum yang memberikan
dan
untuk elektron tunggal, sehingga
3.
Hubungan
antara bilangan kuantum
Untuk memperoleh hubungan antara
berbagai bilangan kuantum momentum sudut, paling mudah kita mulai dengan
komponen z dari vektor J, L, dan S, karena
,
,
dan
merupakan kualitas skalar
Dan
Harga
yang mungkin berkisar dari
,
melewati 0, ke
dan
-nya
ialah
.
Bilangan kuantum
selalu merupakan bilangan bulat atau 0
sedangkan
,
sehingga hasilnya
harus setengah bulat. Harga
yang mugkin berkisar dari
melewati 0, ke
dalam langkah bilangan bulat, sehingga untuk
setiap
,
Seperti juga
harus setengah bulat.
Karena kuantisasi serentak dari J,L
dan S; vektor itu hanya bisa memiliki orientasi relati yang khusus. Kesimpulan
umumnya: dalam kasus atom satu elektron, hanya terdapat dua orientasi relatif
yang di izinkan. Salah satunya bersesuaian dengan
,
sehingga J > L, dan yang lainnya
,
sehingga
.
Berikut dua cara penjumlahan L dan S
menjadi J jika

, 


![]() |
S S
J L
L
J 
Gambar
tersebut menunjukkan dua cara bagaimana L dan S bergabung untuk membentuk J
bila
. Jelaslah vektor momentum sudut orbital dan spin
tidak dapat tepat sejajar atau tepat anti sejajar satu dengan lainnya atau
terhadap vektor momentum sudut total.
4. Asal mula efek Zeeman anomalous
Momentum
sudut L dan S berinteraksi secara magnetis dan sebagai hasilnya timbul torka
terhadap masing-masing. Jika tidak terdapat medan listrik eksternal, momentul
sudut total J kekal baik arah maupun besarnya, dan efek torka internal hanya
menimbulkan presesi dari L dan S di sekitar arah resultannya J. Namun jika
terdapat medan listrik eksternal B, maka J berpresisi di sekitar arah B
sedangkan L dan S meneruskan berpresisi di sekitar J, presisi J disekitar B
menimbulkan efek Zeeman anomalous, karena orientasi yang berbeda dari J
bekaitan dengan energi yang sedikitberbeda karena adanya B.
5. Struktur Hiperhalus dari garis spektral
Inti atom
juga memiliki momentum sudut intrinsik dan momen magnetik intrinsik, keduanya
memberi sumbangan pada momentum sudut total dan momen magnetik total. Sumbangan
seperti itu kecil karena momen magnetik inti ialah
kali momen
magnetik elektron, dan menimbulkan struktur hiperhalus dari garis spektral dengan jarak antara komponen
dibandingkan dengan jarak antara struktrur halus
yang beberapa angstrom.
I. KOPEL LS
1. Skema Kopel LS
Pola yang
biasa untuk semua atom kecuali atom yang sangat berat ialah bahwa momentum
sudut orbital Li dari berbagai elektron terkopel bersama secara
listrik menjadi resultan tunggal L dan momentum sudut spin Si
terkopel bersama menjadi resultan tunggal lainnya Secara bebas, kita akan
memeriksa penyebab perilaku ini kemudian dalam pasal berikut. Momentum L dan S
berinteraksi magnetis melalui efek spin-orbit untuk membentuk momentum sudut
total J. Sekema ini disebut kopel LS (sambatan LS), yang dapat diringkas
sebagai berikut:
Kopel LS

2. Bilangan kuantum dalam kopel LS
Seperti
biasa L, S, J, Lz, Sz dan Jz terkuantisasi dengan bilangan kuantum masing-masing L, S, J, ML,
MS dan Mj. Jadi
Keduanya M dan
selalu merupakan bilangan bulat atau nol,
sedangkan bilangan kuantum lainnya ialah setengah bulat jika menyangkut jumlah
elektron ganjil dan bilangan bulat atau 0 jika jumlah elektron genap,
, J dapat mengambil
harga
; jika L>S, J dapat mengambil harga 2L+1.
![]() |
|||||||||
![]() |
|||||||||
L L L2 L S S1 S2
L1 L2 S1
L1
L1
L = 3 L
= 2 L = 1 S = 1 S = 0
Jika
,
, dan
,
, terdapat tiga cara L1 dan L2 dapat digabung untuk membentuk L dan dua cara
untuk menggabung S1 dan S2 untuk membentuk S.
3.
Mengapa
momentum sudut terkopel
Skema LS
ditentukan oleh kuat relatif gaya listrik yang mengkopel momentum sudut orbital
individual menjadi satu resultan L dan momentum sudut spin indivdual menjadi
aatu resultan S. Asal mula gaya ini sangat menarik.
Karena
distribusi asimetris kerapatan
muatannya, gaya listrik antara elektron dalam atom berubah terhadap orientasi
relatif vektor momentum sudutnya, dan hanya orientasi relatif tertentu saja
yang mantap. Konfigurasi mantap ini bersesuaian dengan momentum sudut orbital
total yang terkuantisasi menurut rumus
.
4.
Memaksimumkan
Kopel L
Kopling
antara Li biasanya sedemikian sehingga konfigurasi energi terendah
ialah konfigurasi dengan L maksimum. Efek ini mudah dimengerti jika kita
membayangkan terdapat dua electron dalam orbit Bohr yang sama. Karena electron
saling tolak menolak secara listrik, electron cenderung untuk berputar
mengelilingi inti dengan arah yang sama sehingga memaksiumkan L . Jika electron
iti berputar dengan arah yang berlawanan sehingga meminumkan L, electron L akan
berpasangan lebih sering mengakibatkan energy system tinggi. Dalam bahasa
mekanika kuantum : Jika fungsi gelombang sebagai electron bertumpangan minimum,
maka L maksimum.
5.
Mengapa
spin terkopel
Timbulnya kopling kuat antara spin electron
lebih sukar dibayangkan karena kopling seperti ini timbul semata-mata karena
efek mekanika-kuantum murni yang tidak mempunyai alaogi klasik. (Perlu dicatat,
interaksi langsung antara momen-magnetik electron intrinsic sangat penting dan
tidak merupakan penyebab dari kopling antara momentum sudut spin-elektron).
Idea dasarnya ialah fungsi gelombang lengkap ψ
(1,2,…..,n) dari system n electron merupakan perkalian fungsi gelombang u
(1,2,…,n) yang memrikan kooordinat electron dan fungsi spin s (1,2,….,n) yang
memerikan orientasi spinnya. Seperti kita liahat pasal 7.4 fungsi lengkap ψ
(1,2,…..,n) harus antisimetrik: ini berarti u (1,2,…,n) tidak bebas dari s
(1,2,….,n). Perubahan dalam orientasi relative dari vector momentum-sudut spin
electron harus disertai dengan perubahan dalam konfigurasi elektronik ruang
dari atom itu, yang berati terjadi perubahan dalam energy pontensial listrik.
Untuk pergi dari momentum sudut spin total S ke momentum lain berkaitan dengan
perubahan struktur atom, sehingga memerlukan gaya listrik kuat disamping
pengubah arah momentum sudut spin, S_1,S_2,…..,S_n yang hanya memerluakan gaya
magnetic lemah. Situasi ini diperikan dengan mengatakan momentum spin Si
terkopel secara listrik.
6.
Memaksimumkan
kopel S
Si-nya selalu terkombinasi menjadi konfigurasi
keadaaan-dasar sehingga S maksimum . Ini merupakan contoh dari aturan Hund
seperti yang telah diterangkan electron dengan spin sejajar memiliki harga m1
yang berbeda dan diperikan dengan fungsi gelombang yang berbeda , ini berarti
terdapat perpisahan rata-rata ruang yang lebih besar dari electron-elektron itu
sehingga energinya menjadi lebih rendah .
Aturanya, L dan S tergabung membentuk J minimum
untuk electron dalam sub-kulit yang kurang dari setenganya terisi dan maksimum
utuk electron dalam sub kulit yang kurang dari setengahnya terisi dan maksimum
untuk electron dalam sub-kulit yang lebih dari setengahnya terisi .
Contoh soal dan Jawaban:
Perkirakan energi magnetik Vm untuk elekron
dalam keadaan 2p dari atom hydrogen dengan pertolongn model Bohr yang dalam
keadaan n=2 bersusuain dengan keadaan 2p
Jawab :
Sosok kawat lingkaran berjri r berarus I
menimbulkan medan magnetic dipusat lingkaran itu sebesar B = μοi/2r Electron
berobrit “Melihat” dirinya dikelilingi f kali tiap detik oleh proton bermuatan
+e (yang merupakan inti) sehingga timbul medan magnetic B = μοfe/2r Frekuensi
perputaran dan jejari orbital untuk n=2
dari persamaaan 4.13 dan 4.22 F = V/2πr = 8,4 ×
1014 s-1 r = n2 α0 = 4 α0 = 2,1 10-10 m
Jadi medan magnetic yang dialami electron ialah
B = ((4π×〖10〗^(-7) T.m⁄A) ×
(8,4×〖10〗^14 s^(-1 ) ) ×
1,6×〖10〗^(-19) C)/(2 ×
(2,1×〖10〗^(-10 m')
)=0,40 T Yang merupakan suatu medan yang kuat.
Karena harga magneton Bohr ialah eℏ/2m =
9,27×10-24 J/T, energy magntik electron ialah Vm = eℏ/2m B=3,7 〖10〗^(-24)
Perbedaan energy sub tingkat atas dan bawah dua kalinya, yaitu 4,8 × 10-5 eV
yang tidk berjauhan dari pengamatan.
J. KOPEL ⌡⌡
Gaya
listrik yang mengkopel Lᵢ menjadi
vektor tunggal L dan Sᵢ menjadi vektor S lebih kuat dari gaya spin-orbit magnetik yang mengkopel L dan S membentuk J dalam atom
ringan, dan mendominasi situasi biarpun jike terdapat medan magnetik eksternal
yang agak besar. Dalam kasus yang kedua ini presisi J mengelilingi B lebih
lambat dari presisi L dan S
mengelilingi J. Namun dalam atom berat muatan inti
menjadi cukup besar untuk menghasilkan interaksi spin-orbit yang orde besarnya
sama dengan interaksi listrik antara Lᵢ dan
antara Sᵢ dan skema kopel LS mulai
tidak berlaku. Ketakberlakuan yang sama juga terjadi pada medan magnetik
eksternal di buat (˃ 1 T) yang
menimbulkan efek Paschen-Back dalam spektrum atomik.
Dalam
batas kegagalan kopel LS, momentum sudut total Jᵢ dari elektron masing-masing dapat di
jumlahkan langsung membentuk momentum-sudut J dari keseluruhan atom itu; situasi ini d kenal sebagai kopel jj (sambatan jj)
karena masing-masing Jᵢ diperikan
dengan bilangan kuantum j seperti
yang telah ditengkan sebelumnya. Jadi
Jᵢ = Lᵢ + Sᵢ
kopel jj
J = ∑ Jᵢ
Keadaan
momentum sudut individual biasanya di perikan dengan huruf kecil, dengan s bersesuaian dengan l = 0, p dengan l = 1,
d dengan l = 2,
dan sebagainya. Skema yang serupa itu dengan memakai huruf besar dipakai untuk
menyatakan keadaan elektronik keseluruhan atom menurut bilangan-kuantum
momentum-sudut orbital total ∟ sebagai berikut:
∟ = 0 1 2
3 4 5 6 . . .
S P D F
G H I . . .
Sebuah
bilangan superskrip sebelum huruf (²p misalnya)
dipakai untuk menunjukkan multiplisitas (kebahukembaran) keadaan itu yang sama
dengan banyaknya kemungkinan orientasi dari L dan S, jadi sama
dengan banyaknya kemungkinan harga yang berbeda dari J. Multiplisitas sama dengan 2S + 1 dalam situasi biasa dengan ∟ ˃
S, karena J berkisar dari ∟ + S melalui 0 hingga ∟- S. Jadi jika S = 0,
multiplisitasnya 1 (keadaan tunggal /
single t ) dan J = ∟̄ jika S =½,
multiplisitasnya 2 (keadaan trikembar / doublet) dan Ј = ∟ ± ½ ; jika S = 1 , multiplitisitasnya 3
(keadaan dwikembar / triplet) dan Ј = ∟ + 1, ∟, atau ∟ - 1 ; dan sebagainya.
Dalam
konfigurasi dengan S ˃ ∟, multiplitisitas sama dengan 2∟ + 1. Bila kuantum
momentum-sudut total Ј dipakai sebagai superskrip sesudah huruf itu, sehingga
keadaan ²P3/2 (dibaca “dwikembar P tiga per dua) mengacu pada konrigurasi elektronik dengan S =1/2,
∟ = 1, dan J =3/2 . menurut sejarah
pelambangan seperti ini di sebut Lambang
suku.
Pada
kejadian momentum sudut atom timbul dari elektro tunggal terluar, bilangan
kuantum utama n dari elektron itu
dipakai sebagai awalan: jadi keadaan dasar atom natrium diperikan dengan 32
S1/2 , karena konfigurasi elektronik memiliki
elektron dengan n=3, l=0, s=½ (sehingga j= ½) dluar kulit n=1 dan
n=2 yang tertutup. Supaya konsisten
yang biasanya di ambil konvensi untuk menyatakan keadaan tersebut dengan 32
S½
dengan superskrip 2 untuk menunjukkan dwikembar, walaupun hanya ada
satu kemungkinan J karena ∟=0.
K.
SPEKTRUM
SATU-ELEKTRON
Sebelum
kit memeriksacontoh-contoh yang dapat mewakili berbagai kelompok unsur, harus
dikemukakan bahwa komplikasi selanjutnya yang belum dibahas selanjutnya dapat
timbul, misalnya yang timbul dari efek relativistikdan kopel antara elektron
dengan fluktuasi vakum dalam medan elektromagnetik. Faktor-faktor tambahan ini
memecah keadaan energi tertentu menjadi sub-keadaan yang jaraknya berdekatan
sehingga menimbulkan sumber lain dari struktur halus dari garis spektral.
Kaidah
seleksi yang diizinkan ialah :
Kaidah seleksi ∆l = ±1
Bilangan
kuantum n dapat berubah sepenuhnya.
Untuk
menunjukkan beberapa perincian yang dihilangkan dalam diagram sederhana sejenis
ini, struktur terperinci dari tingkat n =
1 dan n = 2.
Sub-keadaan
dengan n sama dan j berbeda terpisah energinya, tetapi
juga berlaku untuk keadaan dengan n dan j sama
tetapi l berbeda. Efek yang kedua ini
jelas terlihat untuk keadaan dengan n dan
l kecil, dan pertama kali ditemkan
pada tahun 1947 dalam “Pergeseran Lamb” dari keadaan 22S1/2 relatif terhadap keadaan 22 P1/2. Berbagai pemisahan yang memecah garis spektral H
(n = 3 → n = 2)m mmenjadi tujuh komponen yang
berjarak berdekatan.
Atom
natrium memiliki elektron 3s tunggal
diluar kulit-dalam tertutup, sehingga jika kita anggap terdapat 10 elektron
pada teras dalam secara sempurna memerisai + 10e muatan inti (yang sebetulnya tidak begitu tepat), elektron
terluar terkena aksi muatan-inti efektif
+e, serupa dengan dalam atom
hidrogen. Jadi dalam aproksimasi (hampiran) pertama kita harapkan, tingkat
energi natrium akan sama dengan tingkat energi hidrogen, kecuali tingkat yang
terendah yang bersesuaian dengan n =
3 sebagai ganti n =1 karena prinsip
ekskulasi.
Walaupun
fungsi gelombang natrium tidak identik dengan fungsi gelombang hidrogen,
perilaku umumnya serupa, sehingga dapat diharapkan elektron terluar atom
natrium menembus teras elektron dalam lebih sering jika berada dalam keadaan s, dan tidak begitu sering jika berada
dalam keadaan p, dan lebih jarang
lagi jika dalam keadaan d, dan
sebagainya. Lebih kecil perisaian yang di alami elektron terluar dari
muatan-inti penuh, lebih besar gaya rata-rata yang beraksi padanya, dan lebih
kecil (yaitu lebih negatif) energi totalnya. Karena alasan ini lah keadaan
dengan l kecil dalam natrium tergeser
kebawah dari keadaan yang selara dalam hidrogen.
L.
Elektron
Spektrum Dua
1.
Spektrum Atom dari Dua Elektron – Atom Hg dan
He
Setiap atom memiliki spektrum tertentu. Hg dan
He merupaka atom yang memiliki jumlah elektron terluarnya adalah dua. Transisi
optik atom He dan Hg dapat ditentukan melelui spektrumnya. Untuk menentukan
spektrum atom, maka dirancang percobaan dengan menggunakan metode grating.
Tujuan dari eksperimen ini adalah menentukan panjang gelombang dari spektrum Hg
dan He serta menentukan jenis atom berdasarkan spektrumnya. Hasil percobaan
diperoleh nilai panjang gelombang spektrum, energi transisi, berserta
transisinya. Atom yang tidak diketahui dengan mencocokan spektrumnya maka atom
tersebut adalah Helium.[6]
Elektron tunggal merupakan penyebab timbulnya
tingkat energi dari hidrogen dan natrium. Namun, terdapat dua elektron 1s dalam
keadaan dasr helium dan sangat menarik untuk membahas efek kopling LS dalam
sifat dan kelakuan atom helium. Untuk melakukan hal itu mula-mual kita
perhatikan kaidah seleksi untuk transisi terijinkan dibawah kopling LS:
Bila hanya satu elektron terkait, L=0 dilarang
dan merupakan satu-satunya
kemungkinan. Selanjutnya, J harus berubah jika
keadaan awal memiliki j=0 -> sehingga j=0 terlarang.
Berbagai tingkat menyatakan konfigurasi dengan
satu elektron dalam keadaan dasar dan elektron yang lain dalam keadaan
eksitasi, tetapi karena momentum sudut kedua elektron itu terkopel, dibenarkan
untuk memandang tingkat itu sebagai karakteristik keseluruhan atom.
Terdapat tiga perbedaan yang menonjol antara
diagram yang bersesuaian untuk hidrogen dan natrium.
Pertama, terdapat pembagian menjadi keadaan tunggal
dan keadaan trikembar yang berturutan berarti keadaan dengan spin kedua
elektron anti sejajar (menghasilkan s=0) dan sejajar (menghaslakn s=1). Karena
kaidah seleksi , tidak ada transisi dapat terjadi antara keadaan tunggal dan
keadaan trikembar, dan spektrum helium timbul dari transisi dalam satu set atau
set yang lain. Atom helium dalam keadaan tunggal (spin anti sejajar) terdiri
dari parahelium dan dalam keadaan trikembar (spin sejajar) terdiri dari
ortohelium. Atom ortohelium dapat kehilangan energi eksitasinya dalam suatu
tumbukan dan menjadi parahelium, sedangkan atom parahelium bisa mendapatkan energi
energi eksitasi dalam suatu tumbukan dan menjadi ortohelium, zat cair biasa
atau helium berbentuk gas merupakan campuran dari keduanya.
Keadaan trikembar yang terendah disebut
metemantap (metastabil) karena tanpa tumbukan, sebuah atom dalam keadaan itu
mempertahankan energi eksitasinya untuk waktu yang relatif panjang (satu detik
atau lebih) sebelum memancarkan radiasi.
kedua adalah tidak terdapatnya keadaan 13S. Keadaan
terendah trikembarnya adalah23S, walaupun keadaan tunggal terendah ialah 1S.
Keadaan 13S kehilangan sebagai akibat prinsi ekslusi, karena keadaan ini kedua
elektron harus memiliki spin sejajar jadi memiliki kumpulan bilangan kuantum
yang identik.
Ketiga, perbedaan energi antara keadaan dasar dan
keadaan eksitasi terendah relatifsangat besar yang mencerminkan ikatan kuat
dari elektron kulit tertutup. Energi ionisai heliumkerj a yang diperlukan untuk
memindahkan elektron keluar dari atom helium ialah 24,6 eV, tertinggi
dibandingkan dengan unsur lainnya.
Dalam tingkat energi yang terakhir adalah air
raksa yang memiliki dua elektron di luar teras dalam yang terdiri dari 78
elektron dalam kulit tertutup . kita harapkan pembagian menjadi keadaan tunggal
dan trikembar seperti pada helium, tetapi karena atomnya demikian berat kita
dapat mengharapkan tanda-tanda penyimpangan dalam kopling LS dari sudut
momentum sudut.
Kedua harapan itu terjadi, dan beberapa garis
utama dalam spektrum air raksa timbul dari transisi yang melanggar kaidah
seleksi . Transisi 3P1->1S0 merupakan satu contoh, dan merupakan penyebab
dari garis 2.537 A dalam daerah ultra ungu. Tentu saja ini belum berarti bahwa
peluang transisi sudah pasti harus sangat tinggi, karena tiga keadaan 3P1
merupakan keadaan terendah dari kelompok keadaan trikembar dan cenderung
populasinya tinggi dari uap air raksa yang tereksitasi. Transisi 3P0
dan 3P2 adalah metamantap, tanpa tumbukan, atom itu tetap dalam
keadaannya masing-masing untuk waktu yang realatif lama. Inetaksi spin orbit
kuat dalam air raksa yang menimbulkan pelanggaran sebagai pada kopling LS juga
merupakan penyebab dari pada jarak yang besar anatara unsur trikembar 3P.[7]
M.
SINAR-X
Sinar-X atau sinar Röntgen adalah salah satu
bentuk dari radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang berkisar antara 10
nanometer ke 100 pikometer (mirip dengan frekuensi dalam jangka 30 PHz to 60
EHz). Sinar-X umumnya digunakan dalam diagnosis gambar medis dan Kristalografi
sinar-X. Sinar-X adalah bentuk dari radiasi ion dan dapat berbahaya.
Sinar X dalam Fisika - Sinar X ditemukan pada
tanggal 8 November 1895 oleh Wilhelm Conrad Roentgen seorang profesor Fisika
dan rektor Universitas Wurzburg di Jerman. Roentgen melakukan penelitian dengan
menggunakan tabung sinar katoda. Dinamakan Sinar X karena “X” menyatakan
besaran yang tidak diketahui. Atas penemuannya, Roentgen mendapatkan hadiah
Nobel yang pertama dalam Fisika pada tahun 1901.
Gambar 1.
Tabung Sinar – X
TERJADINYA SINAR-X
1. Sinar X Karakteristik
Sinar X yang terbentuk melalui proses
perpindahan elektron atom dari tingkat energi yang lebih tinggi menuju tingkat
energi yang lebih rendah. Sinar X yang terbentuk melalui proses ini mempunyai
energi yang sama dengan selisih energi antara kedua tingkat energi elektron
tersebut.
2.
Sinar X Bremsstrahlung
Sinar X yang diproduksi dengan jalan menembaki
target logam dengan elektron cepat dalam suatu tabung vakum sinar katoda.
Elektron sebagai proyektil dihasilkan dari pemanasan filament yang juga
berfungsi sebagai katoda. Elektron dari filament dipercepat gerakannya
menggunakan tegangan listrik berorde 102 – 106 Volt. Elektron yang bergerak
sangat cepat itu akhirnya ditumbukkan ke target logam bernomor atom tinggi dan
suhu lelehnya juga tinggi. Target logam ini sekaligus juga berfungsi sebagai
anoda. Ketika elektron berenergi tinggi itu menumbuk target logam, maka sinar X
akan terpancar dari permukaan logam tersebut. Sinar X yang terbentuk melalui
proses ini mempunyai energi maksimal sama dengan energi kinetic elektron oada
saat terjadinya perlambatan.
3. Berkas sinar-X dan
pembentukan citra
Berkas sinar-X dalam penyebaranya dari sumber
melalui suatu garis yang menyebar ke segala arah kecuali dihentikan oleh bahan
penyerap sinar-X. Oleh karena itu, tabung sinar-X ditutup dalam suatu rumah
tabung logam yang mampu menghentikan sebagian besar radiasi sinar-X, hanya sinar-X
yang berguna dibiarkan keluar dari tabung melalui sebuah jendela/window.
Sinar-X adalah foton foton yang mempunyai energi tinggi, karena elektron
memancarkan energi maka energy kinetik elektron akan berkurang dan akhirnya
akan kehilangan seluruh energi kinetiknya.
Jadi dalam proses ini akan terjadi spectrum
kontinyu, spektrum tersebut mempunyai frekuensi cut off (batasan) atau panjang
gelombang cut off yang tergantung pada potensial percepatan. Elektron-elektron
yang ditembakan akan mengeksitasi elektron dalam atom target. Jika elektron
yang ditembakkan cukup besar energinya maka akan mampu melepaskan elektron
target dari kulitnya. Kemudian kekosongan kulit yang ditinggalkan elektron akan
diisi oleh elektron yang lebih luar dengan memancarkan radiasi. Transisi ini
akan menyebabkan sederet baris (garis-garis) spectrum yang dalam notasi sinar-
X disebut garis-garis Kα, Kβ, Kγ dan seterusnya.
Pada sistem pencitraan sinar-X diperlukan
tegangan tinggi, dengan tujuan agar dapat dihasilkan berkas sinar-X. Untuk itu
rangkaian listriknya dirancang sedemikian rupa sehingga tegangan tingginya
dapat diatur dengan rentang yang besar yaitu antara 30 Kv sampai 100 kV. Jika
kVnya rendah maka sinar- X memiliki gelombang yang panjang sehingga akan mudah
diserap oleh atom dari targed (anoda), kemudian disebut sebagai soft x-ray.
Radiasi yang dihasilkan dengan pengaturan
tegangan yang cukup tinggi maka akan dihasilkan sinar-X dengan daya tembus yang
besar dan panjang gelombang yang pendek. Sinar-X merupakan gelombang elektromagnetik
yang dapat menembus suatu bahan, tetapi hanya sinar-X yang mempunyai energi
yang tinggi yang dapat menembus bahan yang dilaluinya, selain itu akan diserap
oleh bahan tersebut. Sinar-X yang mampu menembus bahan itulah yang akan
membentuk gambar atau bayangan.[8]
Sinar x merupakan radiasi gelombang
electromagnet dengan panjang gelombang antara 10-11 m sampai 10-8
m. sinar x dihasilkan oleh penyerapan electron berenergi tinggi dalam suatu
materi. Radiasi sinar x pada tingkat tinggi rendah dapat dihasilkan pada layar
sinar katoda yang umumnya digunakan pada layar tv atau monitor computer.
Radiasi ini mempunyai daya tembus yang sangat kuat, serta dapat digunakan untuk
analisis kristal, mengetahui jenis galian, mengetahui campuran logam,
diagnosis, terapi dan pemotretan. Sinar x dapat dideteksi dengan tabung Geiger
Muller. Sinar-X berdasar proses terbentuknya, dibedakan atas:
a.
Sinar-X
Bremsstrahlung
Pada pesawat sinar-X, metode terpenting dalam
proses produksi sinar-X adalah proses yang dikenal dengan bremsstrahlung, yaitu
istilah dalam bahasa Jerman yang berarti radiasi pengereman (braking
radiation). Elektron sebagai partikel bermuatan listrik yang bergerak dengan
kecepatan tinggi, apabila melintas dekat ke intisuatu atom, maka gaya tarik
elektrostatik inti atom yang kuat akan menyebabkan elektron membelok
dengantajam. Peristiwa itu menyebabkan elektron kehilangan energinya dengan
memancarkan radiasi elektromagnetikyang dikenal sebagai sinar-X bremsstrahlung.
b.
Sinar-X
Karakteristik
Sinar-X dapat pula terbentuk melalui proses
perpindahan elektron atom dari tingkat energi yang lebih tinggi menujuke
tingkat energi yang lebih rendah. Adanya tingkat-tingkat energi dalam atom
dapat digunakan untukmenerangkan terjadinya spektrum sinar-X dari suatu atom.
Sinar-X yang terbentuk melalui proses ini mempunyaienergi sama dengan selisih
energi antara kedua tingkat energi elektron tersebut. Karena setiap jenis atom
memilikitingkat-tingkat energi elektron yang berbeda-beda, maka sinar-X yang
terbentuk dari proses ini disebut sinar-X karakteristik.
Sinar-X bremsstrahlung Mempunyai spektrum
energi kontinyu yang lebar, sementara spektrumenergi dari sinar-X karakteristik
adalah diskrit. Sinar-X karakteristik terbentuk melalui prosesperpindahan
elektron atom dari tingkat energi yang lebih tinggi menuju ke tingkat energi
yang lebihrendah. Beda energi antara tingkat-tingkat orbit dalam atom target
cukup besar, sehingga radiasiyang dipancarkannya memiliki frekuensi yang cukup
besar dan berada pada daerah sinar-X.
Sinar-X karakteristik terjadi karena elektron
atom yang berada pada kulit K terionisasisehinggaterpental keluar. Kekosongan
kulit K ini segera diisi oleh elektron dari kulit di luarnya. Jikakekosongan
pada kulit K diisi oleh elektron dari kulit L, maka akan dipancarkan
sinar-Xkarakteristik Ka. Jika kekosongan itu diisi oleh elektron dari kulit M,
maka akan dipancarkan sinar-X karakteristik Kb. Oleh sebab itu, apabila
spektrum sinar-X dari suatu atom berelektron banyakdiamati, maka di samping
spektrumsinar-X bremsstrahlung dengan energy kontinyu, juga akan terlihat pula
garis-garis tajam berintensitas tinggi yang dihasilkan oleh transisi Ka, Kb,
dan seterusnya. Jadi, sinar-X karakteristik timbul karena adanya transisi
elektron dari tingkat energilebih tinggi ke tingkat energi yang lebih rendah.
Adanya dua jenis sinar-X menyebabkan munculnya dua macam spektrum sinar-X,
yaitu spektrum kontinyu yang lebar untuk spectrum bremsstrahlung dan dua buah
atau lebih garis tajam
4.
Fluoresensi Sinar-X
Sejumlah mineral sangat diperlukan oleh tubuh
manusia untuk kesehatan dan pertumbuhan. Secara umum, mineral itu memiliki dua
fungsi utama, yaitu membangun dan mengatur. Beberapa mineral diperlukan tubuh
dalam jumlah relatif besar, lebih dari 100 mg sehari. Mineral kelompok ini
disebut makromineral, sepertiCa, P, Na, Cl, K, Mg, dan S. Kelompok mineral
lainnya disebut mineralperunut/kelumit (trace element) yang diperlukan oleh
tubuh dalam jumlah sangatsedikit. Dalam tubuh manusia, ada 14 unsur kelumit
yang termasuk esensial bagimanusia, yaitu : Co, Cr, Cu, F, Fe, I, Mn, Mo, Ni,
Se, Si, Sn, V, dan Zn.
Teknik fluoresensi sinar-X dapat dipakai untuk
menentukan kandungan mineralkelumit dalam bahan biologik maupun dalam tubuh
secara langsung. Di beberapanegara maju, teknik ini banyak digunakan untuk
memeriksa kandungan unsur kelumityodium (I) stabil, baik yang terdapat dalam
kelenjar gondok, darah, maupun urine.Yodium diperlukan oleh tubuh dalam jumlah
yang sangat kecil, tetapi kelenjar gondokbaru akan berfungsi secara normal
apabila persediaan I di dalam tubuh cukupmemadai. Defisiensi I dalam diet
seseorang dapat mengakibatkan pembesarankelenjar gondok (goiter).
Teknik pemeriksaan kandungan Iodine di dalam
tubuh dapat dilakukan dengan cara menembakkan radiasi foton elektromagnetik ke
sasaran yang diteliti. Sumber radiasi yang sering digunakan adalah radioisotop
americium-241 (241Am) dengan radiasi elektromagnetik yang dipancarkannya
berenergi 60 keV. Radiasi elektromagnetik yang dipancarkan dari 241Am akan
berinteraksi dengan sebuah elektron yang berada di kulit K unsur I di dalam
tubuh atau bahan biologik lainnya. Karena menyerap energi elektromagnetik, maka
elektron yang berada di kulit K atom I akan memiliki energi kinetik yang cukup
untuk melepaskan diri dari ikatan inti, sehingga elektron itu akan terpental
keluar.
Proses lepasnya elektron dari ikatan inti
disebut proses pengionan materi oleh radiasi. Kekosongan elektron di kulit K
ini selanjutnya akan diisi oleh elektron lainnya yang berada di kulit yang
lebih luar, misalnya kulit L atau kulit M. Perpindahan elektron ke kulit yang
lebih dalam itu akan disertai denganpancaran radiasi elektromagnetik dengan
energi tertentu. Untuk unsur-unsur tertentu, pancaran radiasi elektromagnetik
tersebut adalah dalam bentuk sinar-X karakteristik.
Pancaran sinar-X karakteristik ini demikian
khasnya untuk masing-masing unsur /materi di dalam tubuh, sehingga
masing-masing unsur itu menghasilkan sinar-X karakteristik yang energinya
berbeda-beda, bergantung pada jenisunsurnya. Di sinilah teknik fluoresensi
sinar-X memiliki kelebihan dalammenganalisis unsur /materi dalam tubuh
dibandingkan dengan teknik analisis lainnya. Untuk unsur I, sinar-X
karakteristik yang dipancarkannya berenergi 28,5 keV jika kekosongan elektron
di kulit K diisi oleh elektron dari kulit L, dan 32,4 keV jika kekosongan itu
diisi oleh elektron dari kulit M.
Intensitas pancaran sinar-X karakteristik dari
unsur I tadi selanjutnya dapatdideteksi dan diukur dengan pemantau radiasi.
Hasil pengukuran intensitassinar-X karakteristik akan setara dengan jumlah
unsur I yang terdapat di dalam tubuh atau sampel biologis yang diperiksa.
Gambar berikut menunjukkan panjang gelombang untuk masing-masing gelombang
elektromagnetik:[9]
[1]
Arthur beiser.konsep fisika modern.1999.hal 248
[2]
http://nasrullaharief.blogspot.co.id/2011/11/atom-berelektron-banyak_01.html
[3]
http://gotheblock.blogspot.co.id/2012/05/kimia-fisika.html
[4]
http://nasrullaharief.blogspot.co.id/2011/11/atom-berelektron-banyak_01.html
[5]
Arthur beiser.konsep fisika modern.1999.hal 254
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Magnitudo
momentum anguler spin S adalah:
Efek
zeeman normal
Momentum
sudut spin 
Besar
momentum sudut orbital L dari bilangan kuantum orbital L.
Energi magnetik Vm dari dua kutub bermomen
pada suatu medan magnetik kerapatan fluks
adalah B yang umumnya.
Momentun sudut atomik total 
B.
Kritik
dan Saran
Dalam penyusunan makalah ini apabila terdapat kekurangan dan
kesalahan kami mohon ma’af kepada pembaca, serta untuk peningkatan dan
perbaikan kami mohon pembaca agar dapat memberikan kritikan dan saarannya demi
kemajuan kami untuk makalah berikutnya.






